JEMBER-KU, BAGAI SEPUR TANPA MASINIS


Oleh : Imam Soebagio

Mendung kembali menyelimuti langit Jember. Hari hari kemarin mendung itu diakibatkan perubahan cuaca karena global warming (pemanasan global). Maka hujan sering turun walaupun salah mongso. Mungkin mendung itu akibat hembusan abu dari Gunung Semeru atau Gunung Bromo. Atau kiriman wedus gembel dari Merapi. Masyarakat menganggapnya mendung itu adalah fenomena alam biasa. Namun mendung yang tiba-tiba datang Kamis (18/11) sangatlah mengejutkan. Mendung yang menyelimuti Jember sore itu adalah berita pemberhentian sementara Bupati Jember MZA Djalal dan Wabup Kusen Andalas. Mendung di langit Jember semakin pekat, karena tenggang waktunya sampai perkara keduanya diputus pengadilan kelak. Dan selama itu Jember tidak dipimpin Bupati dan Wakil Bupati definitif.

Ada yang mengibaratkan, Jember bagaikan kereta api yang dihela lokomotif tapi tanpa masinis. Padahal dinamika masyarakat yang majemuk bak penumpang kereta api itu butuh masinis yang selalu siap. Apa boleh dikata, penetapan pembebasan sementara Bupati dan Wakil Bupati oleh Mendagri sudah sesuai dengan mekanisme yang ada, kata Wagub Syaifulah Yusuf. Padahal keduanya belum genap 50 hari dilantik Gubernur Jawa Timur.

Dikatakan tanpa masinis, karena masinis kereta api yang bernama Jember ini, masih jadi polemik. Berkaitan dengan pembebasan sementara Bupati dan Wakil Bupati, Gubernur Jawa Timur menunjuk Sekkab Soegiarto sebagai Plt (Pelaksana tugas). Maksud Gubernur Soekarwo agar pemerintahan dan pelayanan masyarakat tidak terganggu.

Di sisi lain, DPRD Jember mengharap agar ditetapkan saja Pjs (Pejabat sementara). Persis seperti saat Soegiarto diangkat sebagai Plt kemudian digantikan Kepala Inspektorat Provinsi Jawa Timur Zarkasy ketika masa tugas Bupati dan Wakil Bupati Jember berakhir sampai keduanya dilantik kemudian.

Untuk itu dalam waktu dekat pimpinan DPRD dan Sekkab Jember akan konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri agar untuk pelaksanaan pemerintahan di Jember tidak salah langkah.

Sangat disayangkan..

MZA Djalal diberhentikan sementara berdasarkan SK Mendagri yang ditandatangani Mendagri Gamawan Fauzi nomor : 131.35.910 Tahun 2010 tanggal 9 Nopember. Sedangkan Kusen Andalas diberhentikan sementara berdasarkan SK mendagri nomor : 132.35.911 Tahun 210 pada tanggal yang sama.

Untuk diketahui, MZA Djalal diduga terbelit kasus korupsi sebesar Rp 459 juta dalam proyek pengadaan mesin daur ulang aspal saat menjabat Kadis PU Bina Marga Provinsi Jatim tahun 2004. Sebelum MZA Djalal terpilih sebagai Bupati Jember. Saat ini perkaranya tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. Pada masa MZA Djalal memimpin Jember 2005 – 2010, masalah ini tidak terdengar di pengadilan.

Kusen Andalas menjadi terdakwa kasus korupsi dana operasional DPRD Jember Rp 754 juta yang perkaranya tengah disidangkan Pengadilan Negeri Jember. Saat itu Kusen Andalas masih menjadi Wakil Ketua DPRD Jember, sebelum diangkat sebagai Wakil Bupati Jember. Ketika menjabat sebagai Wakil Bupati Jember, perkaranya juga tidak tersentuh pengadilan.

Pemilukada Jember diselenggarakan 7 Juli 2010. Ada empat pasangan yang maju. Perhelatan ini menghabiskan biaya Rp. 33 miliar yang menghantar pasangan MZA Djalal dan Kusen Andalas memperoleh suara 58,37 persen. Dalam pemilukada tersebut warga yang tercantum di DPT adalah 1.714.548 orang. Yang hadir hadir ke TPS sebanyak 972.822 orang.. Sedangkan yang dianggap tidak sah sebanyak 25.449 suara.
Masyarakat terkejut, tetapi masalah yang berkaitan dengan korupsi memang seharusnya diselesaikan di pengadilan. Keterkejutan itu bukan saja karena duet pasangan inkumben ini belum genap 50 hari memimpin Jember. Tetapi karena dana yang sangat besar dikeluarkan untuk membiayai perhelatan lima tahunan ini, seakan sia-sia. Yakni Rp. 33 miliar. Ini belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh empat pasangan yang berlaga masing-masing.

Mendagri Gamawan Fauzi bahkan sangat menyayangkan kalau setiap pemilukada menghabiskan uang banyak. Padahal masih banyak masalah yang dihadapi oleh pemerintah kabupaten. Seperti pengentasan kemiskinan, pengangguran yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, pemerataan pendidikan sampai masalah klasik lainnya yang bisa menghambat peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Serahkan saja.

Seorang pensiunan, Pak Diro dari Sumbersari menyayangkan masalah pemberhentian sementara bagi Bupati MZA Djalal dan Wakil Bupati Kusen Andalas. Tetapi dia memberikan apresiasi kepada penegak hukum untuk menyelesaikan perkara ini melalui jalur hukum. ”Serahkan saja kepada Pengadilan”, katanya lagi.

Sesegara mungkin dan tidak terhenti. Ini juga memberi kesempatan kepada MZA Djalal dan Kusen Andalas untuk bisa lebih konsentrasi menghadapi persidangan. Tidak ada yang patut dikuatirkan jika kedua pemimpin itu merasa tidak bersalah. Toh, kalau nantinya diputus tidak bersalah, maka jabatannya akan diterima kembali. Pak Diro juga tidak mempermasalahkan Jember dipimpin Plt atau Pjs, yang penting urusan kesejahteraan masyrakat dapat tertangani.

Dilaporkan, masih banyak persoalan yang harus diselesaikan secara serius dalam waktu dekat ini oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Mulai dari penyelesaian seperti predikat Jember yang tiba-tiba masuk kategori miskin, tidak dibayarkannya TPP (Tunjangan Profesi Pendidikan) yang nilainya miliaran rupiah, pengangkatan Kepala Sekolah yang ditengarai ada permainan dan tidak sesuai dengan Kepmendiknas, terkatung-katungnya masalah pensiunan yang lamban, PKL, penerbitan Kartu Keluarga yang lamban dan banyak lainnya.

Harapan masyarakat cuma satu. Sesegera mungkin kereta api ini punya masinis untuk memimpin Jember sampai ke stasiun tujuan. Tidak ragu-ragu, tidak takut salah atau selalu khawatir tidak berada dalam naungan payung hukum yang semestinya. Mencapai cita-cita terbina, Jember yang tertib, bersih, indah dan aman. Semoga.

KURANGI MENGKONSUMSI GARAM


Oleh : Pakde Bagio

Menurut Sekretaris III PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan) Universitas Jember Ns. Siswoyo, S.Kep, sudah tiba saatnya merubah pandangan bahwa lansia adalah gudangnya osteoporosis, asam urat atau hipertensi dan gudangnya segala penyakit. Menjadi tanggung jawab kita bersama terutama oleh akademisi merubah pandangan itu, untuk menjadikan lansia ceria, mandiri dan produktif. Kuncinya adalah sehat, katanya lagi.

Hal itu dikemukakan Siswoyo ketika membuka seminar kesehatan ”Menuju Sehat di Usia Senja Dengan Kemandirian” bertema ”Peningkatan Manajemen Terapeutik : Upaya Preventif Terhadap Hipertensi dan Diabetes Melitus oleh mahasiswa PSIK. Acara diselenggarakan Minggu (5/12) bertempat di Gedung PKM Kampus Universitas Jember diikuti oleh 97 orang lansia .

Menurut pemateri Deny Fitria, banyak cara untuk mengendalikan hipertensi yang lebih dikenal dengan nama penyakit darah tinggi. Selain berolah raga secara teratur, menghindari alkohol dan mengurangi kegemukan. Namun demikian ada hal yang harus diingat terutama saat usia mulai lanjut, yakni mengurangi konsumsi garam.

Bagi yang memiliki tekanan darah 159/90-99, sehari maksimal satu sendok teh. Bagi yang memiliki tekanan darah 160-100-109 seyogyanya makan garam paling banyak setengah sendok teh. Sedangkan yang mempunyai tekanan darah 180/110 seyogyanya hanya mengkonsumsi seperempat sendok teh garam.

Deny Fitria menganjurkan untuk mengendalikan hipertensi seyogyanya dilakukan kegiatan relaksasi, seperti meditasi atau melakukan terapi tawa.. Pada kesempatan itu peserta seminar diajak melakukan terapi tawa yang dipandu oleh Eka Windiya. Praktek terapi yang terdiri dari 14 jurus cukup membuat para peserta seminar bergembira bahkan berkeringat. Sementara itu senam kaki untuk menghindari Diabetes Melitus dipandu oleh Fitri Dwi Kartika.

Disisi lain para penderita Dibates Melitus oleh nara sumber Fitria Mustofiyah dianjurkan untuk melakukan senam kaki. Disamping menghindari asupan yang bisa memperparah penderita. Senam kaki bagi lansia penderita Diabetes Melitus antara lain bertujuan untuk memperlancar sirkulasi darah, memperkokoh otot-otot kecil, otot betis dan kaki serta mengatasi keterbatasan gerak sendi.

Acara ditutup dengan makan pagi berupa makanan sehat bagi lansia yang dianjurkan untuk asupan para lansia.

Selamat Tahun Baru 1432 Hijrah






WISATA KE PANTAI PUGER

Oleh : pakde bagio


Memanfaatkan libur long week end, Pantai Puger di Kabupaten Jember masih merupakan obyek wisata yang layak dikunjungi. Pantai indah ini letaknya sekitar 36 kilometer dari kota Jember yang masuk kawasan Jember selatan. Pantai ini menjadi indah karena merupakan muara dari Sungai Bedadung yang menjadikan kawasan ini subur dan makmur.


Muara Sungai Bedadung disebut plawangan atau pintu keluar masuk nelayan mengarungi Samudera Indonesia menangkap ikan. Di muara ini pula tampak pemandangan menakjubkan karena adanya pertemuan air tawar dan air laut.Dan disini pula tampak bagaimana kepiawaian para nelayan mengendalikan jukung-nya untuk bisa keluar dan masuk melalui plawangan. Muara yang sempit ini diapit oleh lereng Gunung Watangan dan pantai pasir yang dikenal dengan nama Pancer.

Tidak jauh dari plawangan, terdapat kolam air tawar alami yang disebut Kucur. Di kolam pemandian kucur orang mandi air pegunungan yang segar dan bercengkerama dengan monyet yang kebanyakan sudah jinak. Kedua tempat inilah yang banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara untuk melepas lelah dan melihat panorama menakjubkan. Bagi masyarakat setempat kedua tempat ini dijadikan tempat ber-nazar, bahkan ada juga yang ngalab berkah.
Untuk sampai ke kedua tempat ini, pengunjung dapat naik perahu nelayan. Perahu yang biasanya sudah uzur digunakan untuk transportasi wisata. Namun, pada saat paceklik atau musim barat, lebih banyak lagi perahu yang dioperasikan untuk antar jemput pengunjung. Ongkosnya pulang pergi sekitar Rp. 5 ribu, atau kalau sedang ramai bisa menjadi Rp. 10 ribu.

Trasi dan nus.
Tidak hanya itu saja panorama Puger menarik wisatawan. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) termasuk obyek yang menarik untuk dikunjungi. Disini dilakukan transaksi jual beli hasil laut Samudera Indonesia dengan pedagang dan wisatawan. Ikan tengiri, tuna, pari dan layur menjadi primadona disini. Udang tidak ada tetapi ikan nus merupakan jenis ikan yang paling banyak didapat dan dicari.

Hasil ikan laut inilah andalan para nelayan Puger. Hasil laut yang melimpah ini banyak dikirim ke Muncar, Surabaya dan Jakarta. Lebih top lagi, Pantai Puger mempunyai komoditi yang dikenal sampai manca negara yaitu trasi. Trasi Puger tidak hanya dikenal masyarakat lokal, tetapi dicari wisatawan mancanegara terutama yang pernah merasakannya atau pernah datang ke tempat ini.

TPI Puger dilengkapi dermaga yang menjorok ke tengah Sungai Bedadung. Di dermaga inilah hasil laut didaratkan. Dan dari sini pulalah pengunjung Pantai Puger dapat melakukan transaksi membeli ikan segar yang masih baru diturunkan dari perahu nelayan dengan harga yang relatip lebih murah. Atau naik perahu menyusuri Sungai Bedadung menuju plawangan, Pancer dan Kucur.

Untuk sampai ke kota kecamatan Puger, pengunjung yang datang dari arah Surabaya atau Probolinggo belok kanan sebelum masuk kota Rambipuji. Atau sekitar 13 kilometer sebelum masuk kota Jember. Dari pertigaan ini akan dilewati kota kecil Balung dan Kasiyan. Jarak tempuh dari Rambipuji ke Puger sekitar 23 kilometer.

Bagi yang menggunakan kendaraan umum, di terminal Tawang Alun Jember sudah ada mini bus langsung ke Jember. Hanya saja dari terminal Puger, perjalanan dilanjutkan dengan transportasi lokal becak atau dokar.

ORANG PAJAK YANG BERSAHAJA


oleh : pakde bagio

Sosok yang satu ini tetap bersahaja walaupun usianya mulai uzur. Itulah Soedardjan yang usianya menjelang 75 tahun. Rumah tinggalnya di Perumahan BTN, Patrang, tipe 21 yang sedikit dikembangkan untuk ruang tamu. Tetapi masih kelihatan bentuk aslinya yang hanya dua kamar. Padahal Soedardjan adalah mantan Kaur Tata Usaha & Personalia Kantor Pelayanan Pajak Jember. Pangkat terakhir saat pensiun tahun 1991 adalah III/a. Sama pangkatnya dengan Gayus Tambunan yang mempunyai kekayaan melimpah dan simpanan Rp. 28 milyar.

Menurut Soedardjan, setiap insan perpajakan mempunyai kesempatan dan peluang yang sama untuk mengabdi dan melakukan penyelewengan. Tinggal manusianya saja, mau mengabdi apa mau korupsi, katanya saat ditemui Minggu (18/4) di kediamannya yang serba sederhana. “Saya ingat pesan nenek saat berangkat kerja hari pertama”, kata Soedardjan. Saiki jaman edan, ora usah melu edan, ben slamet.

Sejak dulu pegawai pajak sudah mendapat remunerasi, tunjangan khusus. Besarnya juga sudah luar biasa, kata Dardjan lagi. Bahkan dia pernah merasakan tunjangan khususnya sembilan kali gaji pokok. Sebenarnya gaji itu sudah cukup, tinggal manusianya saja terkadang masih merasa kurang, tutur pensiunan yang dua kali jadi Pegawai Teladan itu.
Tunjangan khusus yang nilainya besar itu adalah penghargaan bagi para pegawai pajak yang harus mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk memenuhi APBN. Juga merupakan insentif agar mereka bekerja lebih keras lagi untuk membiayai Negara dalam pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

Bapak 7 anak dengan 14 cucu dan 3 cicit ini bergabung dengan dinas pajak bermodalkan ijazah Sekolah Rakyat. Seiring dengan kemajuan jaman, dia melanjutkan pendidikannya sampai KPAA. Karirnya dimulai di Kediri tahun 1953, kemudian setelah diangkat jadi PNS dipindah ke Ponorogo, Pacitan, Madiun dan Jember. Berbagai tugas yang pernah dilakoninya mulai dari petugas dinas luar, pengawasan sampai personalia.

Dardjan memang tidak pernah luput mengamati dunia perpajakan sejak pensiun. Baik melalui televisi, radio maupun koran. Koran yang dia baca adalah koran bekas pemberian tetangganya yang di kliping, sebagai salah satu kesibukannya. Dia juga mengamati kasus Gayus Tambunan dan lainnya. “Saya prihatin sekali melihat orang muda seperti itu. Kasihan sekali. Dia membunuh masa depannya sendiri”, kata Dardjan lagi.

“Gayus Tambunan salah, teman-temannya salah, pimpinannya juga salah, maka mereka harus ditindak sesuai hukum”, katanya ketus. Atas kejujuran dan ketekunannya melaksanakan tugas, Soedardjan mendapat Piagam Penghargaan dari Menteri Keuangan dan Satya Lancana Karya Satya Kelas III dari Presiden Soeharto.