Tampilkan postingan dengan label Seba serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seba serbi. Tampilkan semua postingan

ANTARA KEBINGUNGAN & KERESAHAN







Oleh : Pakde Bagio

Beberapa hari lagi kita memasuki tahun baru 2011. Kata para pemimpi, di prediksi tahun 2011 masih ada bencana, banyak pemimpin meninggal dunia, situasi ekonomi masih sulit dan semakin banyak orang bingung. Saya tidak faham ramalan itu, tetapi saya merasakan denyut keresahan yang dirasakan masyarakat kecil. Terutama yang ada di daerah.

Saya juga merasakan kebingungan para pembesar kita di Jakarta menghadapi tahun baru nanti. Bukan masalah apa yang harus dikerjakan selama setahun, tetapi masalah pengurangan subsidi BBM tanggal 1 Januari 2011 dalam rangka menghemat APBN .

Sejak beberapa bulan lalu telah disodorkan pola pengurangan subsidi BBM (baca : kenaikan harga BBM). Konsep awalnya, distribusi bagi kendaraan plat hitam dikurangi. Yang masih di subsidi adalah kendaraan plat kuning, plat merah dan kendaraan TNI dan Polri.

Konsep berikutnya, penghapusan subsidi BBM bagi keluaran tahun 2005 ke atas. Artinya kendaraan tahun 2005 ke atas tidak diperbolehkan lagi memakan bensin seharga Rp 4.500/liter. Sebagai gantinya mereka diminta mengganti dengan pertamax yang harganya lebih mahal. Untuk memantaunya ada rencana Pertamina menerbitkan kartu kendali bagi para pengantre SPBU (pom bensin).

Menurut Menko Kesra Hatta Radjasa, kebijakan subsidi dilakukan dengan dua pendekatan, yakni berkeadilan berupa perlindungan rakyat yang tidak mampu dan ketersediaan anggaran. "Pemerintah bisa saja menutup kebutuhan subsidi dengan anggaran yang ada, tapi instrumen keadilannya terabaikan," katanya. Ia menambahkan, kebijakan pembatasan selalu memiliki risiko, tetapi harus dilakukan demi sesuatu yang lebih baik. Diharapkan hal ini tidak berisiko pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Sementara pemerintah tengah mengkaji cara terbaik untuk mengurangi subsidi BBM, masyarakat terlanjur resah. Pemerintah menganjurkan agar kendaraan angkutan barang dan penumpang mengganti plat hitam menjadi plat kuning agar masih mendapat jatah BBM bersubsidi. Benarkah itu ?

Coba kita tengok di daerah. Ternyata angkutan barang dan penumpang tidak semua kendaraan bermotor roda empat. Akankah mereka diharuskan menggunakan pertamax yang harganya lebih mahal ?. Walaupun kata Hatta Radjasa kemungkinan kebijakan BBM bersubsidi akan dilaksanakan Maret 2011, tetap saja keresahan masih menjadi milik masyarakat kecil.

Marsudin, pengojek dari Arjasa, Jember menyatakan kekecewaannya karena pemerintah tidak mempedulikan kesulitan masyarakat kecil. Tukang sayur dari Sumbersari, Jember, Tosa pasrah saja. Dia katakan kalau BBM naik pasti barang dagangan juga akan naik, jualnyapun juga harus naik. Dampaknya Tosa butuh modal lebih banyak lagi dengan risiko yang belanja akan menurun karena perekonomian juga akan kurang baik.

Mbak Siti pedagang jajanan kecil untuk murid SD di Kecamatan Balung, Jember lebih prihatin lagi. Karena dagangannya berkisar 250 sampai 500 rupiah saja. Tentunya kalau BBM naik, akan sulit mencari dagangan yang untungnya rata-rata hanya 50 rupiah. ”Padahal alat transport saya cuma sepeda motor ini”, katanya. Mosok sepeda motor di plat kuning !


TKI (Antara remitansi, skill dan aniaya)




Oleh : Pakde Bagio

Salah seorang dari sekitar 1.400 ABK kapal pesiar Amerika bernama ”Liberty of The Seas” berasal dari Jember. Namanya Andi bertugas sebagai Chef yang cukup diperhitungkan karena memilik skill yang sepadan. Menurutnya, selain memiliki skill seperti yang dituntut sesuai bidang tugasnya, seorang TKI harus memahami budaya dan bahasa yang digunakan sehari-hari di tempat kerja luar negeri.

Persis seperti yang ditemukan Komisi D DPRD Jember yang mengadakan sidak di Kantor Imigrasi Jember (17/12). Menurut Sahroni, anggota Komisi D disebutkan setelah diadakan sidak, ternyata banyak TKI unskill yang dengan mudahnya memperoleh paspor. ”Akibatnya, ketika di luar negeri mereka banyak mengalami masalah”, tutur Sahroni. Seharusnya pengiriman tenaga kerja ke luar negeri hendaklah yang berketrampilan, katanya lagi.

Adalah Sumiati (23 tahun) asal Dompu, NTB menjadi korban kekejian di rumah majikannya di Medinah. Selain dianiaya sekujur tubuhnya, bibir dan mulutnya digunting. Belum reda cerita sedih tentang Sumiati, Kikim Komalasari (36 tahun) asal Cianjur, Jawa Barat, tewas digorok majikannya. Kemudian jenasahnya dibuang di tempat sampah di Abha, sebuah kota di Arab Saudi.

Kisah Sumiati dan Kikim pada bulan Nopember 2010 ini melengkapi kisah sedih para TKI kita di luar negeri. Diantaranya seperti Nirmala Bonat (asal NTT) yang dianiaya dengan cara dipukuli, diseterika dan disiram air panas oleh majikannya. Yim Pek Hay, sang majikan dipenjara di Kuala Lumpur 18 tahun.

Siti Hajar (asal Garut) juga di Kuala Lumpur tidak pernah menerima gaji selama 3 tahun juga dianiaya dengan gunting, dipukuli dan disiram air panas. Majikannya Hiau Yuang dipenjara 3 tahun dan denda Rp. 13,25 juta. Begitu pula Winfaidah (asal Lampung) mendapat siksaan dan dijadikan budak seks di Kuala Lumpur. Majikannya bernama Wilu dan Bunguwalu kini tengah diadili dan mendapat ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Bukan cuma itu. Laporan Direktur Executif Migrant Carw Anis Hidayah, selama sebelas bulan pada tahun 2010 tercatat 5,636 orang TKI di Arab Saudi mengalami kasus serius. Selain tindak kekerasan, mereka mayoritas menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Jumlah ini merupakan bagian dari 22.035 kasus yang terjadi di Arab Saudi.

Banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah kekerasan dan pelecehan terhadap TKI. Namun karena banyaknya kasus, seiring dengan semakin banyaknya TKI ke luar negeri, rasanya tidak mudah menyelesaikannya. Gemerincing dolar terdengar keras sekali mulai dari Jakarta sampai ke pelosok desa. Bayangkan, remitansi (kiriman uang) dari para buruh migran di luar negeri dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Tahun ini saja tercatat 7,139 miliar dolar AS yang masuk. Kalau kurs dolar AS Rp. 10 ribu per dolar maka remitansi itu berjumlah Rp. 71.390.000.000 (baca : tujuh puluh satu triliun rupiah lebih). Jumlah uang yang banyak yang berasal dari 4,3 juta TKI. Angka menggiurkan yang menjadi maknit setiap warga bangsa. Magnit yang mampu menyedot setiap orang untuk berburu dolar.

Mengingat semakin banyaknya buruh migran kita yang jadi korban penganiayaan, Presiden SBY berencana akan memberikan ponsel buat para TKI yang bekerja di luar negeri. Agar kelak kalau ada masalah dengan mereka, maka kedutaan besar di masing-masing negara dan Jakarta dapat segera mengetahuinya. Untuk segera diatasi.

”Pemerintah Indonesia menginginkan adanya kerja sama, sikap kooperatif, karena sebenarnya tenaga kerja itu ya bekerja untuk ekonomi mereka. Jadi, harus ada take and give-nya”, kata Presiden.

Menurut Anis, pemerintah lalai mengawasi proses perekrutan, pelatihan, dan penempatan mereka. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya TKI yang berusia dibawah umur, tidak memahami bahasa tempat kerja mereka bahkan tidak memiliki ketrampilan apa-apa. ”Kalau pengawasan benar, setiap TKI yang berangkat sudah menguasai bahasa negara tujuan, konsisi sosial, dan pemahaman hukum setempat”, kata Anis lagi.

Hal itu dibenarkan Andi (24 tahun), Chef kapal pesiar ”Liberty of The Seas”. Kapal terbesar berpenumpang 4.300 orang wisatawan berlantai 17 ini dengan rute Amerika Eropa. Menurutnya, selain harus memahamai budaya tempat TKI itu bekerja, penguasaan bahasa yang banyak digunakan di dunia, ketrampilan kerja dan pengetahuan yang luas menjadi syarat mutlak.

”Mereka sangat menghargai dan menghormati para pekerja asing yang berkemampuan tinggi dan pandai berkomunikasi”, katanya lagi. Kalau toh disana-sini terdengar adanya penganiayaan terhadap TKI kita, kemungkinan disebabkan oleh ketidak-mampuan berkomunikasi serta skill yang dibutuhkan.

Sebaran TKI dan Kasusnya

Negara

Jumlah TKI

Jumlah kasus

Arab Saudi

960.000

22.035

Taiwan

130.000

4.497

Uni Emirat Arab

75.000

3.866

Singapura

110.000

2.937

Malaysia

2.000.000

2.476

Hongkong

120.000

2.245

Qatar

25.000

1.146

Oman

12.000

1.146

Bahrain

16.000

373

Suriah

80.000

161

Brunei

33.000

84

Korea Selatan

33.000

10


Total TKI : 4,3 juta orang

Total kasus : 45.626

Catatan : belum termasuk TKI tidak berdokumen

JEMBER-KU, BAGAI SEPUR TANPA MASINIS


Oleh : Imam Soebagio

Mendung kembali menyelimuti langit Jember. Hari hari kemarin mendung itu diakibatkan perubahan cuaca karena global warming (pemanasan global). Maka hujan sering turun walaupun salah mongso. Mungkin mendung itu akibat hembusan abu dari Gunung Semeru atau Gunung Bromo. Atau kiriman wedus gembel dari Merapi. Masyarakat menganggapnya mendung itu adalah fenomena alam biasa. Namun mendung yang tiba-tiba datang Kamis (18/11) sangatlah mengejutkan. Mendung yang menyelimuti Jember sore itu adalah berita pemberhentian sementara Bupati Jember MZA Djalal dan Wabup Kusen Andalas. Mendung di langit Jember semakin pekat, karena tenggang waktunya sampai perkara keduanya diputus pengadilan kelak. Dan selama itu Jember tidak dipimpin Bupati dan Wakil Bupati definitif.

Ada yang mengibaratkan, Jember bagaikan kereta api yang dihela lokomotif tapi tanpa masinis. Padahal dinamika masyarakat yang majemuk bak penumpang kereta api itu butuh masinis yang selalu siap. Apa boleh dikata, penetapan pembebasan sementara Bupati dan Wakil Bupati oleh Mendagri sudah sesuai dengan mekanisme yang ada, kata Wagub Syaifulah Yusuf. Padahal keduanya belum genap 50 hari dilantik Gubernur Jawa Timur.

Dikatakan tanpa masinis, karena masinis kereta api yang bernama Jember ini, masih jadi polemik. Berkaitan dengan pembebasan sementara Bupati dan Wakil Bupati, Gubernur Jawa Timur menunjuk Sekkab Soegiarto sebagai Plt (Pelaksana tugas). Maksud Gubernur Soekarwo agar pemerintahan dan pelayanan masyarakat tidak terganggu.

Di sisi lain, DPRD Jember mengharap agar ditetapkan saja Pjs (Pejabat sementara). Persis seperti saat Soegiarto diangkat sebagai Plt kemudian digantikan Kepala Inspektorat Provinsi Jawa Timur Zarkasy ketika masa tugas Bupati dan Wakil Bupati Jember berakhir sampai keduanya dilantik kemudian.

Untuk itu dalam waktu dekat pimpinan DPRD dan Sekkab Jember akan konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri agar untuk pelaksanaan pemerintahan di Jember tidak salah langkah.

Sangat disayangkan..

MZA Djalal diberhentikan sementara berdasarkan SK Mendagri yang ditandatangani Mendagri Gamawan Fauzi nomor : 131.35.910 Tahun 2010 tanggal 9 Nopember. Sedangkan Kusen Andalas diberhentikan sementara berdasarkan SK mendagri nomor : 132.35.911 Tahun 210 pada tanggal yang sama.

Untuk diketahui, MZA Djalal diduga terbelit kasus korupsi sebesar Rp 459 juta dalam proyek pengadaan mesin daur ulang aspal saat menjabat Kadis PU Bina Marga Provinsi Jatim tahun 2004. Sebelum MZA Djalal terpilih sebagai Bupati Jember. Saat ini perkaranya tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. Pada masa MZA Djalal memimpin Jember 2005 – 2010, masalah ini tidak terdengar di pengadilan.

Kusen Andalas menjadi terdakwa kasus korupsi dana operasional DPRD Jember Rp 754 juta yang perkaranya tengah disidangkan Pengadilan Negeri Jember. Saat itu Kusen Andalas masih menjadi Wakil Ketua DPRD Jember, sebelum diangkat sebagai Wakil Bupati Jember. Ketika menjabat sebagai Wakil Bupati Jember, perkaranya juga tidak tersentuh pengadilan.

Pemilukada Jember diselenggarakan 7 Juli 2010. Ada empat pasangan yang maju. Perhelatan ini menghabiskan biaya Rp. 33 miliar yang menghantar pasangan MZA Djalal dan Kusen Andalas memperoleh suara 58,37 persen. Dalam pemilukada tersebut warga yang tercantum di DPT adalah 1.714.548 orang. Yang hadir hadir ke TPS sebanyak 972.822 orang.. Sedangkan yang dianggap tidak sah sebanyak 25.449 suara.
Masyarakat terkejut, tetapi masalah yang berkaitan dengan korupsi memang seharusnya diselesaikan di pengadilan. Keterkejutan itu bukan saja karena duet pasangan inkumben ini belum genap 50 hari memimpin Jember. Tetapi karena dana yang sangat besar dikeluarkan untuk membiayai perhelatan lima tahunan ini, seakan sia-sia. Yakni Rp. 33 miliar. Ini belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh empat pasangan yang berlaga masing-masing.

Mendagri Gamawan Fauzi bahkan sangat menyayangkan kalau setiap pemilukada menghabiskan uang banyak. Padahal masih banyak masalah yang dihadapi oleh pemerintah kabupaten. Seperti pengentasan kemiskinan, pengangguran yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, pemerataan pendidikan sampai masalah klasik lainnya yang bisa menghambat peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Serahkan saja.

Seorang pensiunan, Pak Diro dari Sumbersari menyayangkan masalah pemberhentian sementara bagi Bupati MZA Djalal dan Wakil Bupati Kusen Andalas. Tetapi dia memberikan apresiasi kepada penegak hukum untuk menyelesaikan perkara ini melalui jalur hukum. ”Serahkan saja kepada Pengadilan”, katanya lagi.

Sesegara mungkin dan tidak terhenti. Ini juga memberi kesempatan kepada MZA Djalal dan Kusen Andalas untuk bisa lebih konsentrasi menghadapi persidangan. Tidak ada yang patut dikuatirkan jika kedua pemimpin itu merasa tidak bersalah. Toh, kalau nantinya diputus tidak bersalah, maka jabatannya akan diterima kembali. Pak Diro juga tidak mempermasalahkan Jember dipimpin Plt atau Pjs, yang penting urusan kesejahteraan masyrakat dapat tertangani.

Dilaporkan, masih banyak persoalan yang harus diselesaikan secara serius dalam waktu dekat ini oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Mulai dari penyelesaian seperti predikat Jember yang tiba-tiba masuk kategori miskin, tidak dibayarkannya TPP (Tunjangan Profesi Pendidikan) yang nilainya miliaran rupiah, pengangkatan Kepala Sekolah yang ditengarai ada permainan dan tidak sesuai dengan Kepmendiknas, terkatung-katungnya masalah pensiunan yang lamban, PKL, penerbitan Kartu Keluarga yang lamban dan banyak lainnya.

Harapan masyarakat cuma satu. Sesegera mungkin kereta api ini punya masinis untuk memimpin Jember sampai ke stasiun tujuan. Tidak ragu-ragu, tidak takut salah atau selalu khawatir tidak berada dalam naungan payung hukum yang semestinya. Mencapai cita-cita terbina, Jember yang tertib, bersih, indah dan aman. Semoga.

Selamat Tahun Baru 1432 Hijrah






MALING TERIAK MALING


Oleh : Imam Soebagio


Ketika saya mengajar, Kamis (18/3/10), seorang mahasiswa bertanya. Apakah maling teriak maling itu benar ada ? Apakah cuma bukan jargon politik atau istilah kebanyakan saja. Saya jawab, ada, karena saya pernah melihatnya.

Pertanyaan mahasiswa itu terkait dengan santernya istilah maling teriak maling dalam media massa terkait dengan statemen Jenderal Susno Duaji. Polisi berpangkat Komjen (Komisaris Jenderal) yang menjadi semakin terkenal karena mengungkap cerita kurang sedap di tubuh institusi yang pernah membesarkannya sampai menjabat Kabareskrim.


Supaya ada kesamaan persepsi, perlu disepakati dulu siapa yang disebut maling. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua yang diterbitkan Balai Pustaka Depsikbud (1995), yang disebut maling adalah orang yang mengambil milik orang lain secara sembunyi-sembunyi. Atau pencuri (terutama yang mencuri pada malam hari).

Peristiwa yang masih saya ingat itu (unforgetable) terjadi sekitar tahun 1958-an. Saat itu saya bersama orang tua sudah pindah ke Jember, sedang nenek masih tinggal di Bondowoso. Sekitar 33 kilometer dari kota Jember di Jawa Timur. mBah Karso, nenek saya itu tinggal di Jalan Kranggan Gang Purbo. Suatu perkampungan padat penduduk dekat alun-alun kota Bondowoso.

Hampir setiap libur sekolah, saya selalu ke tempat nenek dan bermalam selama beberapa malam. Seperti saat peristiwa itu terjadi. Malam itu, ketika orang terlelap tidur dikejutkan oleh teriakan maling-maling. Semua orang dewasa dan pemuda berhamburan keluar rumah menuju tempat teriakan. Kata mereka ada maling gagal membobol rumah penduduk dan lari kearah sungai di barat kampung.

Masyarakat berlarian mengejar kearah sungai. Menurut cerita paman saya yang ikut mengejar, dari kejauhan tampak dua orang berlari kencang kearah sungai. Tidak jauh dari kedua orang itu beberapa ikut mengejarnya. Di dekat sungai, kata paman saya, salah satu dari dua orang di depan itu berteriak-teriak, “ini malingnya, ini malingnya”. Maka pendudukpun memukulinya beramai-ramai dalam kegelapan malam. Ada yang memukul dengan tangan kosong, ada yang memukulinya dengan kentes (kayu pemukul) ada juga yang memukul dengan bambu pagar.

Sang maling yang sudah tidak berkutik karena sekujur tubuhnya berlumuran darah, digotonglah dia ke dekat rumah penduduk. Setiap orang ingin tahu siapa maling itu, maka dengan penerangan obor dan sentolop (senter) wajah maling yang sudah berlumuran darah itu diseka. Betapa kagetnya penduduk ketika diketahui bahwa maling yang baru mereka keroyok adalah tokoh masyarakat setempat.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir korban pengeroyokan itu mengatakan kalau malingnya adalah yang dia kejar di depan. Saat sang maling (yang asli) terpegang sarungnya, justru dia yang berteriak-teriak, “ini malingnya, ini malingnya”. Kontan saja para pengejar lain dalam kegelapan malam menggebukinya.

Penduduk pun penasaran. Mereka kembali ke sungai mencari sang maling. Setibanya di tepi sungai mereka dikejutkan dengan teriakan seseorang di seberang sungai. Setelah diterangi dengan senter, seseorang yang tidak dikenal mengepalkan tinjunya dan membokongi dengan memelorotkan celananya. Dia tertawa keras, hahahahahaha, kata paman. Kemudian maling itupun lari kearah persawahan dalam kegelapan malam. Gambar pelengkap tulisan ini diambil di internet seorang maling yang nyonyor digebug massa.

KORUPSI, Siapa Takut



Oleh : Imam Soebagio

Berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 58/4 tanggal 31 Oktober 2003, tanggal 9 Desember ditetapkan sebagai Hari Antikorupsi Internasional. Maka hari Rabu, 9 Desember 2009 yang lalu secara serentak masyarakat dunia memperingatinya. Demikian juga masyarakat Indonesia memberikan respon agar bangsa kita ikut serta memberantas korupsi. Demo besar-besaran di seluruh penjuru tanah air untuk memperingati Hari Antikorupsi Internasional.


Sebegitu hebatnya mahluk yang bernama korupsi ini sehingga PBB mesti turun tangan. Hal ini beralasan karena PBB menganggap korupsi merupakan isu yang melanda semua negara di dunia. Ini adalah tindakan yang terkait dengan hancurnya kejujuran seseorang akibat runtuhnya integritas moral, atau seseorang melakukan tindakan yang memperlihatkan tiadanya integritas atau kejujuran..

Menurut Syed Hussein Alatas, seperti yang dikemukakan Drs. R. Dyatmiko Soemodihardjo, SH, M.Hum, istilah korupsi mencakup tiga tipe fenomena. Yaitu penyuapan (bribery), pemerasan (extortion) dan nepotisme (nepotism). Ketiganya dikaitkan dengan penempatan kepentingan-kepentingan publik dibawah kepentingan-kepentingan pribadi dengan pelanggaran norma-norma tugas dan kesejahteraan.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi menurut Jack Bologne dengan GONE Theory-nya, adalah :
Greeds (keserakahan) yang berkaitan dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang.
Oppoturnities (kesempatan) yang berkaitan dengan keadaan organisasi, instansi atau masyarakat, sehingga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan korupsi.
Needs (kebutuhan) yang terkait dengan faktor kebutuhan individu guna menunjang hidupnya yang layak.
Exposures (pengungkapan) yaitu faktor yang berkaitan dengan tindakan, konsekuensi atau risiko yang akan dihadapi oleh elaku apabila yang bersangkutan terungkap melakukan korupsi.

Keempat faktor ini saling baerkaitan, sehingga banyak pejabat, pemegang kekuasaan dan penanggung jawab kelembagaan menjadi terlena. Akibatnya, tidak sedkit dari mereka yang ”terjebak” dan melakukan penyalah-gunaan alias korupsi. Dan akhirnya masuk ”pintu taubat”, nama lain penjara atau Lembaga Pemasyarakatan. Termasuk di Jember. Disana sudah ada nama beken seperti Samsulhadi, Djoewito, Muharor dan serentetan nama. Belum lagi sejumlah nama lain yang sudah diincar untuk masuk bui.

Schok terapi.
Di negeri kita, korupsi nampaknya sudah seperti kanker dalam tubuh. Sudah menguasai darah dan daging. Sudah menguasai strata terendah sampai strata teratas. Hal itu terjadi karena budaya malu sudah habis, budaya sungkan sudah tipis. Rasa takut sudah tidak ada lagi, karena hukum bisa dipermainkan, penegak hukum sudah dikuasai para calo baik yang berseragam maupun yang pakaian preman. Bak kata pepatah, wet kalah karo duwit alias hukum kalah sama uang. Aturan dan peraturan mengenai penegakan hukum dan pemberantasan korupsi sudah tidak mempan lagi.

Padahal menurut Baharudin Lopa, mantan Jaksa Agung, sebenarnya mencegah kolusi dan korupsi tidaklah sulit. Itu kalau kita secara sadar mau menempatkan kepentingan umum dan kepentingan rakyat banyak diatas kepentingan pribadi atau golongan. Betatapun sempurnanya peraturan, kalau niat untuk korupsi ada di hati yang memiliki peluang melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut, maka korupsi akan tetap terjadi. Karena faktor mental lah yang paling menentukan.

Nampaknya memberantas korupsi di negeri kita seperti menegakkan benang basah. Sulit sekali. Sehingga ketika memperingati Hari Antikorupsi Internasional, 9 Desember 2009 lalu banyak konsep yang ditawarkan para pendemo. Mulai dari yang ringan agar koruptor dikenakan hukum cambuk, dimasukkan televisi dalam acara koruptainmen, hukuman diperberat, tidak diperlakukan khusus seperti penyediaan LP Khusus.

Slamet, pensiunan, yang menonton aksi di dekat bundaran DPRD Jember memberikan konsep lain. Sita semua harta koruptor, baik atas namanya sendiri maupun atas nama isteri, anak dan cucunya. Kemudian tempatkan mereka dibawah jembatan semanggi atau dibawah jembatan jompo. ”Biar kapok”, kata Slamet berapi-api. Sebab konon kabarnya ada koruptor yang rela menjalani hukuman penjara daripada harus menguras harta untuk membiayai mafia peradilan.

Ada juga yang diteriakkan pendemo yang lebih ekstrim. Perlu schok terapi, kata mereka. Agar para koruptor dikenakan hukuman mati, digantung atau potong tangan. Bahkan kalau perlu dirajam. Tetapi Baharudin Lopa pernah menolak hukuman semacam itu karena melanggar Hak Azasi Manusia dan tidak berdasar.

Mantan Presiden Peru, Fujimori yang terbukti korupsi dikenakan hukuman penjara 48 tahun. Mantan Presiden Filipina Erick Estrada dikenakan hukuman penjara seumur hidup, juga karena korupsi. Di Jepang koruptor bunuh diri. Di China, koruptor dihukum tembak dimuka umum.

Tindakan preventif.
Untuk memberantas korupsi di negeri kita, nampaknya perlu komitmen jelas. Presiden SBY sudah menyampaikan tekadnya untuk memberantas korupsi. Tinggal sekarang bagaimana komitmen para pembantunya.

Mengutip konsep yang diajukan Drs. R. Dyatmiko Soemodihardjo, SH, M.Hum, pemberantasan korupsi tidak seperti yang dilakukan saat ini. Lebih mengedepankan strategi represif dengan melakukan pengungkapan, penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan pengadilan serta menghukum para pelaku.

Di negeri ini, upaya-upaya pencegahan agar tidak timbul korupsi masih kurang mendapat perhatian semestinya, kata sejumlah orang. Masih tebang pilih, kata orang lagi. Tindakan represif saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan upaya-upaya preventif yang dapat mencegah timbulnya korupsi. Di China koruptor ditembak mati seperti gambar yang diambil dari internet ini.


SAM-SAMA IKHLAS

oleh : imam soebagio

Sebagai rasa syukur atas keberhasilan ketela pohonnya, Matsoki berniat memberikan sepikul hasil panenya kepada Kyai Ahmad. Kebetulan pak kyai ada di beranda rumahnya sambil membaca Gema Lansia kesenangannya.

- Assalamualaikum Kyai, sapa Matsoki.

- Waalaikum salam. Tumben pagi-pagi sudah sampai kesini, jawab Kyai Ahmad.

- Ini Kyai, panen saya berhasil. Ini untuk Kyai.

- Apa itu ?

- Sepikul ketela pohon, Kyai.

- Terima kasih. Taruh di belakang, ya !

Sekalian bawakan seekor kambing yang paling besar di pekarangan belakang.
Ketela pohon itupun dibawa ke dapur rumah Kyai Ahmad. Kemudian Matsoki mengambil seekor kambing betina yang besar dan dituntunnya ke depan. Diserahkannya tali kambing itu kepada Kyai Ahmad.

- Ini kyai kambingnya.

- Ya sudah bawalah pulang, seru sang Kyai..

- Kyai .................

- Kenapa ? Kamu tadi memberi saya ketela pohon. Kamu ikhlas ?

- Saya ikhlas, Kyai.

- Ya sudah. Saya juga ikhlas memberi kami kambing itu.

Walaupun kaget atas pemberian itu, kambing itupun dituntunnya pulang. Ditengah perjalanan pulang, Matsoki bertemu tetangganya Badrun. Dia bertanya dari mana kambing yang dituntunnya itu. Padahal tadi pagi Badrun tahu, Matsoki memikul ketela pohon. Maka diceritakanlah kejadian itu.

Badrun-pun berfikir. Matsoki memberi sepikul ketela pohon kepada Kyai Ahmad, pulangnya di diberi kambing betina yang gemuk. Kalau aku memberikan seekor kambing jantan kepada Kyai, pasti aku diberinya sapi gemuk. Maka Badrun-pun membawa kambing ke rumah Kyai.

- Kamu, Drun.

- Iya, Kyai.

- Ada apa drun ?

- Ini Kyai, saya dapat rejeki, saya berikan kambing ini kepada Kyai.

- Kamu ikhlas ?

- Saya ikhlas, Kyai.

- Oh, ya, terima kasih. Tolong ikat di pekarangan belakang. Saya ngantuk, saya tidur dulu, ya. Kamu bisa pulang.

Badrun bertanya dalam hati, mengapa Kyai tidak memberikan sapi kepadanya. Maka setelah mengikatkan kambingnya di belakang, Badrun kembali duduk di beranda rumah Kyai. Sampai satu jam kemudian Kyai Ahmad bangun.

- Kamu masih disini, Drun ?

- Iya, Kyai. Anu ..............

- Oh, itu. Tolong ambilkan ketela pohon sepikul di dapur.

Maka diambillah ketela pohon sepikul yang tadi diberi Matsoki. Ketela pohon itupun diberikan kepada Kyai. Kyai Ahmad-pun berucap, ”Saya ikhlas, bawalah ketela pohon itu untukmu”.


ROTI YANG BISA NGENTUT

oleh : imam soebagio

Sebegitu sayangnya Badrus kepada cucu tunggalnya, sehingga setiap sore dia pasti mengajak cucunya jalan-jalan. Menaiki ngeng-ngeng (nama sepeda motor menurut bahasa cucunya) keliling alun-alun. Sampai di alun-alun, sang cucu selalu minta dibelikan roti. Tetapi, roti yang dibeli harus selalu model dan rasa lain. Inilah yang membuat Badrus bingung setiap sore melayani cucu kesayangannya.

Sudah puluhan model dan rasa roti yang setiap sore dibelinya. Mulai roti unyil, roti kacang, roti pisang, roti kismis, roti keju, roti kering sampai tawar dan roti sisir beraroma vanila. Tadinya, Badrus setuju saja setiap sore sang cucu ganti roti. Tetapi akhirnya sang kakek bisa mangkel juga. Sebab roti yang tadinya harganya seribu dua ribu, kini malah sampai enam belas ribu. Ini artinya jatah rokok Badrus semakin berkurang.

Jum’at sore pekan lalu, ketika diajak keliling kota naik ngeng-ngeng, sang cucu rewel sambil meronta-ronta. Pasalnya dia tidak mau dibelikan roti roti yang pernah dia makan. Badrus kehilangan akal, sambil memperhatikan lalu lalang sepeda motor yang melintas di depannya. Tiba-tiba Badrus menemukan inspirasi. Kepada sang cucu Badrus bertanya, Gil kamu mau roti yang bisa ngentut ? Ragil mengangguk.

Diangkatnya Ragil, dinaikkannnya keatas tangki negeng-ngeng-nya kemudian dia stater sepeda motornya.

• Mana rotinya, tanya sang cucu si Ragil.

• Itu di depan, jawab Badrus.

• Mana, kung ?

• Itu naik sepeda motor.

• Yang mana, kung ?

• Itu, yang digonceng sepeda motor di depan kita.

• Mana, kung, tanya sang cucu tak sabar.

• Itu, yang pakai celana hitam. Yang besar itu.

• Ah, Akung itu bukan roti. Itu bokong.

• Ya, iyalah. Kalau dulu namanya bokong. Sekarang namany roti. Roti yang bisa ngentut.

Keesokan harinya ketika Ragil hendak berangkat sekolah bilang kepada neneknya. Ti, Ragil nggak mau makan roti lagi. Tadi malam waktu tidur, Ragil tidak bisa bernafas, mimpi mabuk makan roti besar yang bisa ngentut.

Badrus menarik nafas panjang. Alhamdulilah, serunya. Mulai sore nanti uang rokokku tidak berkurang lagi untuk roti cucunya. Ternyata ibu-ibu gemuk yang suka mengenakan celana ketat saat gonceng sepeda motor menjadi obat mujarab cucunya. Karena rotinya yang besar dan bisa ngentut membuat cucunya takut makan roti.

46 TAHUN SMP NEGERI I KALISAT




Oleh : Siti Djaenaf, S.Pd

Saya mengajar di SMP Negeri Kalisat hanya sekitar 5 tahun. Namun kesan mendalam saya peroleh selama bertugas di sekolah ini. Pertama, karena setelah menyelesaikan kuliah, saya diangkat sebagai CPNS di sekolah ini. Saya mengajar Bahasa Indonesia bagi para siswa yang aksen kentalnya masih madura. Sesuatu yang ternyata memperkaya khasanah saya. Kedua, saya harus menempuh perjalanan ke tempat mengajar dengan colt (kendaraan umum) dari Jember ke Kalisat setiap hari. Berangkat dari Jember setengah enam pagi. Kalau kesiangan, terpaksa suami saya yang harus mengantar ke Arjasa.

Itu selintas menyibak kenangan masa lalu yang terekam, ketika para guru sekolah ini mengadakan temu kangen dan reuni, 7 Agustus 2009. Saat itu mantan guru dan karyawan berkumpul kembali, kangen-kangenan melepas rindu. Banyak yang sudah pensiun, banyak yang menjadi kepala sekolah atau mendapat tugas kependidikan lainnya. Yang masih menjadi guru seperti saya juga masih banyak.

Kepala sekolahnya sekarang adalah Drs. Nursyamsu Subagio yang dulu teman seangkatan saya. Kemudian beberapa teman menjadi Kepala Sekolah. Diantaranya : Drs. Soenaryono, MM (SMP Negeri I Jember), Drs. Tokkin Sakijono (SMPN 2 Sukowono), Dra. Ekowati Dani (SMPN Tanggulangin, Sidoarjo), Dra. Tri Arifina (SMPN Pringgodani, Sumberjambe), Drs. Andre Kus Irianto (SMPN 13 Jember).

Sementara itu yang tercatat sebagai pegawas pendidikan antara lain Dra. Atiyah, Drs. I Nyoman Sukerta, Drs. Bambang Setiotomo. Penulis minta maaf karena tidak dapat mencatat secara lengkap teman guru yang sudah menempati posisi penting dalam dunia kependidikan. Namun ada beberapa informasi yang saya catat keberadaan teman-teman saat ini. Diantaranya : Subandrio (Ponorogo), Sarto (Kertosono), Endang Suharti (Surabaya), Mistriniah (Jakarta), Mur Setyasih (Sragen), Tri Amini (Pare), Nuriyah Setyawati (Pacitan), Hardiyanto (Jombang), Edy Sunyoto (Nganjuk).

Pangsit mie.
Ketua Panitia reuni Drs. H. Sutikno menuturkan, saat meninggalkan sekolah ini tahun 1971, disini masih ada enam kelas. Saya jadi teringat saat itu. Saya mengajar kelas dua yang tempat belajarnya nunut di SMP Terbuka. Tempatnya di belakang stasiun kereta api. Tempat belajar kelas satu ada di sekolah induk di Jalan Diponegoro, tetapi sore hari. Akibatnya kalau saya mengajar kelas satu, saya harus berlarian ke Jalan Dipnegoro. Menyeberang rel kereta api setengah lari dan menyempatkan makan siang bakwan atau pangsit mie di Depot 32.

Menurut H. Sutikno, kini alumninya sudah ribuan. Tersebar di seluruh Nusantara. Banyak yang sukses menjadi pejabat, bahkan ada yang menjadi Kapolda dan Rektor Perguruan Tinggi. Bahkan para alumninya kini malah menjadi guru di sekolah ini.

Drs. Nursyamsu Subagio menjelaskan bahwa sekolah ini kini berusia 46 tahun. Statusnya Sekolah Berstandar Nasional. Dulu merupakan salah satu dari 6 SMP Negeri di Jember. Kini SMP sudah ratusan jumlahnya, sehingga sekolah ini harus berlomba untuk mencetak lulusan berkualitas. Harapannya, agar teman guru baik yang sudah pensiun maupun yang masih aktif, dapatnya memberikan sumbang pikir untuk lebih memajukan sekolah ini.

Ada beberapa gambar yang sempat saya rekam pada acara temu kangen Sabtu ini. Mudah-mudahan bisa menjadi pengobat rindu bagi teman-teman yang tidak hadir. Saya juga mengharap agar tulisan ini bisa dilengkapi oleh teman-teman yang lain. Barangkali kelak bisa disumbangkan uintuk SMP Negeri I Kalisat, Jember menghadapi tantangan global.

Gambar I : Bu Elly Nursyamsu menyambut tamu. Gambar II : dari kika Pak Andre (Kepala SMPN 13 Jember), Pak Bambang (Oto 2000), Bu Yanisar (pensiun, Malang), penulis (SMPN 3 Jember), Bu Eko (Kepala SMPN Tanggulangin, Sda), Bu Lusi (SMPN 2 Silo), Pak Nursyamsu. Gambar III : Suasana semakin akrab pada acara makan siang sambil lesehan di laboratorium audio yang canggih.

Jayalah SMP Negeri I Kalisat..

ONTONG-ONTONG BOLONG


oleh : H. soebaiyanto

Seperti disamber petir di siang hari bolong, Wati kaget mendengar permintaan mbah kung-nya. Dia minta dilamarkan mbah Iyem, untuk dinikahinya. Padahal mbah kung Wati sudah sepuh betul dan sudah lama menduda.

- ”Mbah kung kesepian ?”, tanya Wati.

- ”Tidak”, jawab mbah kung.

- ”Mbah kung, kepingin ........”

- ”Tidak”, jawab si mbah kung memotong pertanyaan Wati.

- ”Kenapa mbah kung minta kawin ?”.

- ”Biar pensiunku tidak terputus”, jawab mbah kung polos.

Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara serak sebuah lagu yang dinyanyikan buyut mbah kung. Onthong-onthong bolong adu merak adu sapi. Ada kakek ompong, wis tuwek njaluk rabi. Mbah kung tiba-tiba bangkit dari amben, ngeloyor pergi ke rumah Agus pemilik warung STMJ di seberang jalan. Tulisan ini dimuat di Buletin BeR-INTAN edisi : 3/2009.



MENGISI KEMERDEKAAN


Oleh : Drs.R.Dyatmiko Soemodihardjo SH, MHum

Sampai dengan tanggal 17 Agustus 2009 ini bangsa Indonesia telah 64 tahun hidup di alam kemerdekaan menikmati hasil perjuangan dan pengorbanan jiwa raga putra bangsa yang berahun-tahun berjuang melawan penjajah. Mereka berjuang tanpa pamrih pribadi apapun dan hanya didorong oleh satu keinginan serta kehendak yang sucidan luhur membebaskan tanah air dari penjajahan demi terwujudnya Negara Indonesia dari sabang sampai merauke yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Selanjutnya kemerdekaan yang telah dicapai itu harus diisi dengan upaya memajukan kesejahteraan umum, menderdaskan kehidupan bangsa dan melindungi segenap bangsa Indonesia dari segala ancaman dan penderitaan.


Dalam memperingati ulang tahun kemerdekaan saat ini perlu diingat dan direnungkan kembali apa sesungguhnya yang diamanatkan para pejuang kemerdekaan dan pendiri Negara Republik Indonesia ini. Apakah kita semua sekarang ini yang menikmati hasil perjuangan mereka itu telah dengan sungguh-sungguh melaksanakan amanat kemerdekaan tersebut atau mungkin bahkan melupakannya? Utamanya para penyelenggara Negara dengan segala kekuasaan dan kewenangannya sudahkah mensejahterakan rakyatnya dengan berkeadilan sehingga terwujud masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Yang sangat memprihatinkan, bahwa kemerdekaan negeri ini kenyataannya justru diisi dengan merajalelanya proses penghancuran alam dan lingkungan. Berupa penggundulan gunung, pembabatan hutan, pebalakan liar, penambangan liar, perusakan pantai dan daerah aliran sungai tanpa adanya pengawasan dan penindakan dari yang berwajib, sehingga kesemuanya dilakukan bebas tanpa terkendali.

Pada saat rakyat kecil sedang diuji ketahanan hidupnya dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, mengapa perbuatan korupsi, penyuapan, pemereasan, pungutan liar, gratifikasi dan perbuatan lainnya yang merugikan uang Negara serta menghabiskan uang rakyat justru semakin vulgar dan merajalela?

Diseluruh daerah di tanah air ini dari Papua sampai Aceh telah dipenuhi dengan kasus korupsi yang merebak meliputi 33 propinsi yang ada. Sejumlah korupsi yang terjadi di daerah ini belum lagi ditambah dengan banyaknya korusi yang terjadi di berbagai departemen, Lembaga Negara Non Departemen (LNND), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan lainnya.

Kejaksaan Agung yang merupakan salah satu pilar penegakan hukum dan pemberantasan korusi ternyata juga terjerat kasus korupsi yang melibatkan pejabatnya di gedung bundar. Rakyat merasa prihatin dengan adanya dugaan korupsi miliaran rupiah yang melibatkan wakil-wakilnya yang terhormat di lembaga legislatif Bahkan sudah ada pula yang ditahan dan dihukum karena terkait dengan kasus korupsi.

Sebagai generasi penikmat kemerdekaan selayaknya merasa berdosa bilamana tidak dapat mensyukuri anugerah Allah SWT berupa kemerdekaan sebagaimana seharusnya. Bumi Indonesia yang merdeka ini tidak selayaknya dijadikan ajang lomba memperkaya diri secara melawan hukum dengan menyalahgunakan kekuasaan untuk mengeruk sebesar-besarnya kekayaan Negara dan uang rakyat.

Para koruptor harus minta maaf yang sebesar-besarnya kepada para pejuang kemerdekaan, karena sudah ingkar daei apa yang diamanatkan.Juga harus minta maaf kepada rakyat dan bangsa Indonesia atas perbuatan jahatnya yang telah menyengsarakan serta menjauhkan rakyat dari kesejahteraan dan kemakmuran. Selanjutnya yang semestinya dilakukan bangsa ini adalah membersihkan tanah air dari jeratan korupsi. Antara lain melalui reformasi birokrasi pemerintah, pelayanan publik, perpajakan, perijinan dan pengawasan.

Kalau pemerintah dapat menyediakan anggaran triliunan rupiah untuk pemilu dan pilkada, seharusnya pemerintah juga bisa menyediakan triliunan dana untuk program yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Antara lain untuk pengadaan dan penyediaan pangan, penyelenggaraan pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Upaya mensejahterakan rakyat ini mesti didukung dengan upaya meningkatkan pemberdayaan sumber daya manusia, memperbaiki pengelolaan energi dan sumber daya alam serta pelestarian lingkungan dan hutan.

Marilah dengan melakukan renungan suci memperingati ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, segenap komponen bangsa ini sekali lagi memantapkan niat dan kehendaknya untuk bertekad mengisi kemerdekaan dengan mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi, kelompok, golongan maupun partai.

Selaras dengan Semangat Proklamasi mari kita tinggalkan korupsi, kolusi, dan nepotisme demi mensejahterakan seluruh rakyatnya dan bukan hanya pemimpinnya yang sejahtera. Jangan sampai terjadi di negeri ini bahwa keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan hanyalah suatu impian bagi rakyat dan kemerdekaan hanya tinggal menjadi kenangan.

Merdeka! Dirgahayu Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Santya Jaya Jaya, selamatlah dalam kejayaan. Naskah ini dimuat dalam Buletin BeR-INTAN edisi 10 Agustus 2009.


ISTANA NEGARA & ISTANA MERDEKA


Oleh : Siti Zaenab, S.Pd

20 Oktober 2009, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dilantik setelah memenangkan pemilu. Sudah saatnya Presiden Soesilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Boediono mulai bekerja. Pasangan pemimpin bangsa ini punya tekad bekerja sebagai satu tim. Oleh karenanya, keduanya memilih bekerja dalam satu komplek di Istana Merdeka. sebelumnya, Presiden bekerja di Istana Presiden di Jalan Merdeka Utara dan Wakil Presiden di Istana Wapres di Jalan Merdeka Selatan. Mulai tahun ini Presiden dan Wakil Presiden sama-sama berkantor di Istana Merdeka di Jalan Merdeka Utara.

Beberapa saat lalu ketika penulis ke ibu kota, seringkali mencoba melihat kemegahan Istana Merdeka. Namun susah sekali, karena disana hampir setiap hari ada demo. Tetapi usai Lebaran kemarin, saat Jakarta lengang, penulis menyempatkan diri untuk melihat pusat pemerintahan bangsa ini. Walaupun hanya dari luar pagar. Berjalan di trotoar Taman Monas di Jalan Merdeka Utara. Kemudian berhenti di pintu masuk silang monas di sebelah barat daya.

Gaya Yunani.
Istana Kepresidenan Jakarta terdiri dari dua bangunan istana. Istana Merdeka, yang menghadap ke Taman Monumen Nasional, dan Istana Negara yang menghadap ke Sungai Ciliwung di Jalan Veteran. Kedua istana ini dihubungkan dengan halaman tengah yang luasnya kira-kira setengah lapangan bola. Selain itu terdapat pula bangunan lain, yaitu Kantor Presiden, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, dan Museum Istana Kepresidenan.

Semula, Istana Negara dibangun untuk kediaman pribadi seorang Belanda bernama J.A. van Braam pada tahun 1796. Namun pada 1816 bangunan bergaya Yunani ini diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pusat kegiatan pemerintahan. Sekaligus untuk kediaman Gubernur Jenderal Belanda. Komisaris Jenderal Belanda G.A.G.P. Baron van der Capellen memilih gedung itu sebagai tempat kediamannya. Itulah sebabnya bangunan ini disebut “Hotel Gubernur Jenderal”.

Tadinya bangunan ini berlantai dua tetapi tahun 1848 bagian atasnya dibongkar. Sedangkan bagian bawahnya diperluas sampai 3.375 meter persegi sehingga memberi kesan lebih resmi. Bangunan megah inilah yang tetap dipertahankan sampai kini.

Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara ini. Diantaranya, ketika Jenderal de Kock menguraikan rencana menindas pemberantokan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal Baron van der Capellen. Kemudian saat de Kock merumuskan strategi menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Demikian juga saat Gubernur Jenderal van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultur stelsel. Kemudian disini pula pada 25 Maret 1947 ditandatangani persetujuan Linggarjati.

Sampai saat ini tercatat 20 kepala pemerintahan dan kepala negara menggunakan istana ini sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan. Disamping digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara-acara bersifat kenegaraan. Seperti pelantikan pejabat-pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rakernas atau kongres yang bersifat nasional dan internasional.

Sementara itu, Istana Merdeka yang menghadap Taman Monumen Nasional (Monas) dibangun tahun 1873 saat pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge. Arsitek pembangunannya adalah warga Belanda bernama Drossaers. Semula bernama Istana Gambir sampai penyerahan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Saat itu ditandai dengan penurunan bendera Merah Putih Biru. Diganti dengan bendera Merah Putih yang disambut gegap gempita massa sambil meneriakkan pekik ”Merdeka”. Maka sejak itulah Istana Gambir menjadi Istana Merdeka.

Luas bangunan Istana Merdeka sekitar 2.400 meter persegi. Didalamnya terdapat beberapa ruangan. Yakni Ruang Kredensia, Ruang Jepara, Ruang Raden Saleh, Ruang Resepsi. Ruang lain adalah Ruang Bendera Pusaka yang digunakan untuk menyimpan bendera pusaka yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Untuk diketahui bahwa bendera pusaka hanya dikeluarkan setiap peringatan Detik Detik Proklamasi, menemani duplikat untuk dikibarkan.

Di halaman Istana Negara terdapat tiang bendera yang tingginya 17 meter. Di halaman inilah dijadikan tempat dilaksanakannya upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus.

Amanah.
Maka sejak kemerdekaan Republik Indonesia, kedua istana itupun menjadi milik bangsa Indonesia dan menjadi pusat upacara-upacara kenegaraan yang menyangkut kehidupan Negara Indonesia. Karena pemerintahan Republik Indonesia sejak pengakuan kedaulatan berpusat di Jakarta, maka sejak itu istana kepresidenan ini menjadi pusat pemerintahan dan acara resmi kenegaraan.

Selain berfungsi sebagai kantor, Istana Negara digunakan sebagai kediaman Presiden. Sebelumnya merupakan kediaman Gubernur Jendral Hindia Belanda dan Panglima pendudukan Jepang. Sejak Indonesia merdeka, tercatat Presiden Soekarno mendiami Istana Negara mulai tahun 1950. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden Soeharto dan Presiden B.J.Habibie lebih sering menggunakan Bina Graha sebagai ruang kerjanya.. Presiden Soeharto memilih tinggal di Jalan Cendana sementara Presiden B.J.Habibie tinggal di kawasan Patra Kuningan.

Pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri, ruang kerja presiden pindah di Istana Negara dengan alasan karena Bina Graha berada di Jalan Veteran yang
lalu-lintasnya ramai sehingga mengganggu. Selain pertimbangan keamanan. Bina Graha sendiri kemudian diubah fungsinya menjadi Museum Istana. Untuk kediamannya, Presiden Megawati memilih tinggal di kediamannya di Jalan Kebagusan atau Jalan Teuku Umar.

Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta memegang peranan penting dalam sejarah. Terutama dalam proses pengambilan keputusan untuk rakyat Indonesia. Baik pada jaman penjajahan Belanda, Inggris, Jepang maupun setelah kemerdekaan. Mudah-mudahan dengan difungsikannya Istana Negara dan Istana Merdeka menjadi kantor kedua Pemimpin Bangsa ini menjadi tempat yang amanah untuk meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran dan keamanan bangsa.

Selamat bekerja Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono.
Dalam gambar tampak penulis bersama anak (Andi) foto bersama di depan Istana Merdeka, sesaat mengantar Andi berangkat ke Dubai.

WARTAWAN JADUL





Oleh : Imam Soebagio

Hari-hari setelah memasuki lansia, saya merasa masih banyak waktu kosong saya. Waktu tidur tidak bisa dipaksakan 8 jam (sepertiga waktu dalam sehari). Saya membaca Kompas, Jawa Pos dan Surya. Masih ada lagi seminggu sekali baca Koki dan Nyata atau kiriman majalah, tabloid dan pinjaman majalah karena ada tulisan bagus. Semuanya saya lahap sambil bergilir putar channel Metro, TV One, Trans dan JTV. Mungkin asupan ini yang membuat saya agak telmi. Kata teman, memori saya sudah amber alias penuh. Saya pun harus cari solusi supaya tidak linglung. Biar lebih awet dan lebih lama lagi momong cucu. Sebab usia saya 12 Februari 2010 mendatang, 65 tahun.

Sayapun aktif di Yayasan Gerontologi Abiyoso, Karang Werda, Forum Kerjasama Karang Werda dan PWRI (Persatuan Wredatama Republik Indonesia). Ternyata masih ada juga waktu kosong saya. Maka saya harus menulis. Menulis apa saja, untuk apa saja. Termasuk menulis untuk blog saya, menjadi full timer Tabloid Gema Lansia dan menjadi editor Majalah BeR-INTAN. Percaya atau tidak, ternyata semakin banyak menulis semakin terangsang untuk baca, ber-face book ria, dan YM. Saya jadi teringat saat saya jadi wartawan jadul. Terutama saat mengejar nara sumber yang pelit atau saat dikejar-kejar dead-line.

Kepuasan batin.
Ketika saya masih duduk di SMP, saya yang suka nulis “Opo Tumon” di majalah Panyebar Semangat, saya sudah dijuluki waratawan oleh banyak orang. Ketika saya benar-benar jadi wartawan, sekitar 45 tahun silam, saya harus mencari berita, melakukan serangkaian wawancara dan konfirmasi. Saat itu banyak nara sumber yang takut dimintai informasi dan konfirmasi. Sehingga terkadang sulit untuk melakukan wawancara. Padahal untuk menemui sumber berita dan nara sumber harus saya tempuh dengan bersepeda pancal.

Kini, jaman sudah berubah. Berkat kemajuan teknologi yang didukung peralatan canggih, kemampuan berpikir orang semakin maju serta transportasi yang memadai maka tugas wartawan menjadi lebih mudah.

Faktor risiko menulis masa lalu dan sekarang juga beda. Pada waktu itu, menulis sesuatu harus benar-benar hati-hati. Walaupun sudah akurat, kalau para pejabat tidak berkenan pasti akan berdampak kurang bagus. Diseberang sana sudah ada petrus, ada dor-bog, atau kecelakaan lalu lintas yang di rekayasa menanti. Saya beberapa kali ditodong, dua kali dimaki-maki Bupati, beberapa kali dipanggil Kejaksaan dan Subdit Sospol, dimarahi Kepala Humas atau menerima teror telpon.

Kapok lombok kata orang Jawa, meskipun jera tetapi saya masih ingin saja menulis. Seperti jeranya menggigit lombok Hari ini kepedesan, mungkin lusa ingin menggigit lombok lagi. Belum lagi ancaman pemecatan sebagai PNS. Maklumlah status saya sejak 1 Januari 1964 adalah PNS di Universitas Jember.

Pekerjaan kewartawanan menurut saya adalah pemenuhan kepuasaan batin. Diawali dari adanya isyu, kemudian bagaimana wawancara harus dilakukan, proses penulisan laporan dan berita. Terakhir ketika laporan dan berita sudah terkirim, tinggal bagaimana laporan dan berita itu dimuat. Tulisan yang dimuat saya baca berkali-kali. Dalam membaca tulisan saya, ada kepuasan batin yang saya rasakan. Seperti yang selalu disampaikan Sakim (LKBN Antara), wartawan tua yang sudah almarhum kepada saya. Kepuasan batin itu tak ternilai harganya.

Soal kesulitan mencari berita, check and re-check dan konfirmasi barangkali sama pada jaman dulu dan jaman sekarang. Semuanya tergantung kepada kepiawaian kita berkomunikasi dan meyakinkan nara sumber.

Yang beda adalah proses pengiriman beritanya. Dulu harus lewat pos. Dari Jember ke Surabaya bisa dua sampai tiga hari. Ke Jakarta bisa empat hari sampai seminggu. Kalau berita dituntut kecepatannya, maka harus dikirim lewat telegram. Jaman pun berubah sedikit demi sedikit. Kalau berita harus cepat diterima redaksi, maka berita bisa di-dikte lewat telepon. Kemudian berkembang levat faximili. Jaman sekarang bisa dikirim lewat internet atau komunikator. Kecepatan dan akurasinya tentunya semakin terjamin.

Pengiriman berita lewat internet dan komunikator hanya membutuhkan hitungan detik. Bahkan dimuatnyapun, cuma membutuhkan waktu beberapa menit saja. Pada era informasi saat ini, dunia seperti tanpa sekat dan tanpa batas. Kematian Jacko lima menit lalu, tiba-tiba saja sudah dilihat di layar kaca televisi seluruh dunia. Gambar jenazah Jacko yang dipindah dari helikopter polisi ke ambulan menjadi berita aktual. Minimal, di layar kaca sudah ada informasi tulisan dalam bentuk running text. Demikian juga siaran berita di radio. Mereka saling berlomba untuk menyiarkan berita aktual.

Ada pengalaman menarik. Ketika menjadi wartawan TEMPO dulu, untuk mengejar dead-line, saya harus naik pesawat dari Surabaya ke Jakarta. Padahal naik bus dari Jember – Surabaya membutuhkan waktu 5 jam. Itu dilakukan hanya untuk mengirimkan sebuah laporan kecelakaan Bus Akas yang memakan 26 korban jiwa di Ranuyoso, Probolinggo. Dan, pulangnya ke Jember saya naik kereta api murahan yang penuh sesak.

Angkat topi.
Satu persatu wartawan senior saya meninggalkan kita. Mendahului kita menghadap Sang Khalik. Mereka mungkin tersenyum di sorga karena masih banyak anak-anak muda yang mau memilih profesi sebagai wartawan. Wartawan yang tanpa pamrih, penuh semangat kejuangan dan melawan tirani. Walaupun tantangan, risiko dan konsekuensinya berat. Saya angkat topi buat teman-teman wartawan muda.

Beberapa teman belum lama meninggalkan kita seperti Umar BSA (Jember), Anshori Thoyib (Ketua PWI Jatim), Soenaryo (Bhirawa), Basuki (Panyebar Semangat), Peck Diono (Suara Indonesia), Agil H. Ali (Memorandum) dan sejumlah nama yang saya lupa. Semoga pengabdian mereka selama di dunia dicatat Tuhan dan mendapat tempat yang layak disisiNya. Amin.

Yang tidak pernah saya lupakan ajaran para wartawan senior, bahwa profesi kuli tinta (istilah jadul) dalam tugasnya adalah menyuguhkan fakta untuk diketahui masyarakat luas. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, fakta adalah keadaan yang benar-benar terjadi. Wartawan bukan polisi. Wartawan bukan hakim.

Saya berjanji akan menulis seri berikutnya. Kepada teman-teman wartawan, tetap semangat dan selamat berjuang. Sebagai kenangan, ada beberapa foto jadul yang saya sertakan dalam tulisan ini. (1) Meliput meletusnya Gunung Galunggung di Rancapaku dan Kubang Eceng. (2) Liputan meletusnya Gunung Kelut di mulut terowongan Neyama bersama petugas Direktorat Geologi. (3)Rapat Perwakilan PWI Besuki dan Lumajang. (4) Meliput kunjungan Presiden Soeharto saat meletusnya Gunung Semeru.

LEBARAN 2009





















Oleh : Imam Soebagio

Karena saya orang Jember, walaupun kelahiran Bondowoso, maka lebaran-pun cuma di Jember. Nggak perlu mudik jauh-jauh. Cukup di Jember. Karena ibu tinggal di Sumbersari. Ibu mertua juga tinggal di Jember, walaupun agak melosok di Mojosari, Puger. Yang paling penting, maknanya

Kepada orang tua kami mohon ampunan atas kesalahan yang telah kami perbuat. Sebab mustahil sebagai anak tidak punya salah dan dosa kepada orang tuanya. Saya sekeluarga belum cukup mampu membahagiakan orang tua kami, walaupun sudah mengusahakannya. Para ibu yang sudah sepuh itu menyadari keadaan kami, kekurangan kami, keterbatasan anak.

Namun, dari raut wajah mereka, saya lihat kebahagiaan mereka saat melihat kami. Saya bersama adik-adik telah menyemarakkan rumah kedua orang tua kami. Dengan keramaian, celoteh dan perilaku para cucu dan cicit kedua ibu kami. Semarak, meriah penuh kebahagiaan. Semoga kebahagiaan kedua ibu kami ini dapat mereka rasakan sepanjang tahun, kedepan. Semoga panjang umur bagi kedua ibu kami.

Kami juga mohon doa saat kami sungkem, agar kami juga diberi panjang umur. Agar para anak dan cucu kami demikian juga. Diberikan kesehatan, kelancaran studinya, berhasil mengabdikan diri untuk keluarga, bangsa dan tanah airnya.

Kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu kami sembah, kami berdoa agar kami semua selalu berada dalam lindunganNYA. Terima kasih Tuhan atas anugerahMU. Terima kasih Tuhan atas kepercayaan yang telah ENGKAU berikan kepada kami untuk tetap hidup dalam garisMU.