
PENDAMPINGAN PSIKOLOGIS LANSIA DI JEMBER


oleh : Pakde Bagio
Sebagai tindak lan jut ditandatangani nya MOU antara Perwakilan Yayasan Gerontologi Abiyoso (YGA) Kabupaten Jember dengan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ), kni para lansia di Jember akan mendapat pendampingan psikologis secara cuma cuma. Penandatanganan MOU oleh Giman Supriatno (Ketua Perwakilan YGA) dengan Iin Ervina, S.Psi, M.Si (Dekan Fakultas Psikologi UMJ) dilaksanakan 8 Juni 2010 yang ditindak-lanjuti dengan penandatanganan Protokol Pemenuhan Hak & Kewajiban pada MOU tersebut pada 9 Oktober 2010.
Untuk teknis pelaksanaan pendampingan psikologis, Rabu (22/12) kedua belah fihak sepakat untuk segera merealisasinya. Di Fakultas Psikologi UMJ kedua belah fihak membicarakan bersama tata cara yang ditempuh agar tidak ternyata tumpang tindih.
Menurut Ketua Perwakilan YGA Giman Supriatno, berdasarkan laporan BPS Jawa Timur (2007) di Jember terdapat 2.293.740 jiwa. 11,26% persen diantaranya, yakni 258.351 jiwa berusia 60 tahun keatas yang disebut lansia. Seirama dengan semakin membaiknya keadaan ekonomi serta pelayanan kesehatan, dari tahun ke tahun jumlah lansia akan semakin bertambah pula. Namun demikian, problem yang dihadapi para lansia juga semakin kompleks sehingga pendampingan psikologis agar para lansia tetap sehat, berkualitas dan mampu mandiri sangat diperlukan.
Perwakilan YGA mempunyai tugas membantu pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan lansia. Lembaga ini mendorong agar para lansia berkumpul dalam wadah Karang Werda. Namun demikian, sampai saat ini di Kabupaten Jember masih terdapat 70 Karang Werda yang tersebar di 16 Kecamatan. Sedang 15 kecamatan lainnya belum tersentuh Karang Werda. Padahal pembentukan dan pemberdayaan Karang Werda telah diatur oleh Peraturan Bupati Jember nomor 47 tahun 2006.
Sejak saat ini, Karang Werda melalui Perwakilan YGA dapat meminta fihak Fakultas Psikologi UMJ mengadakan kegiatan pendampingan psikologis. Sebaliknya, Fakultas Psikologi UMJ dapat mengadakan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi ke Karang Werda yang ada.
Memperingati Hari Ibu bersama Ibu Roekanti

Oleh : Pakde Bagio
22 Desember kita semua memperingati Hari Ibu. Tanpa Ibu kita tidak akan pernah ada. Tanpa Ibu kita tidak akan tahu akan jadi apa dan kemana, karena Ibu selalu menunjukkan arah kemana kita pergi. Dengan sabar dan penuh kasih sayang kita dijadikan manusia. Mulai dari melahirkan, menyusi, membelai, memandikannya tiada henti Ibu mendampingi kita. Trima kasih Ibu, semoga Ibu panjang umur dan selalu sehat.
Kali ini saya menurunkan sebuah tulisan tentang bagaimana seorang ibu mendidik putra-putrinya sampai berhasil. Bahkan Ibu Roekanti sampai saat ini masih sehat walafiat walau usianya sudah 93 tahun. Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya bagi kita sekalian, terutama para ibu muda. Untuk tidak mudah putus asa, tetap semangat menghadapi segala tantangan dalam mendidik putra-putrinya. Terutama menghadapi masalah ekonomi, pendidikan sampai situasi yang kurang kondusif akibat pengaruh global yang melanda bangsa.
Berbincang dengan lansia yang satu ini sangatlah menyenangkan. Walau usianya mulai senja, 93 tahun, tutur katanya masih tertata bagus. Masih jelas, disertai intonasi khas Jawa yang masih kental. Daya ingatnyapun masih hebat. Apalagi kalau menceritakan putra-putrinya yang sukses ber-karir. Dan almarhum suaminya, salah satu pamong praja dari sembilan pegawai Kabupaten Jember pertama yang dibentuk Belanda. Itulah sosok Eyang Roekanti, isteri almarhum Koesdi, kemenakan Bupati pertama Jember Notohadinegoro.
Eyang Roekanti sangat fasih menjelaskan nama putra-putrinya yang sebelas orang berikut pekerjaannya. Begitu pula ketika merinci 34 cucu dari kesebelas putra-putrinya. Namun ketika ditanya berapa buyut dan canggahnya, Roekanti tertawa ngakak sambil berkata, jangan tanya jumlah dan namanya. “Pokoknya, buanyak”, katanya.
Roekanti adalah sosok ibu periang yang demokratis. Dia tidak pernah menyuruh anak-anaknya jadi apa. Dia hanya berpesan agar anak-anaknya belajar dan bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab. Wanita yang kelihatan segar dan tidak pernah minum obat ini tidak punya kiat agar “awet urip”. Sebab yang membuat “awet urip” adalah Tuhan Yang Maha Esa, katanya. Yang penting menurutnya, nrimo, apa adanya dan mboten nate muring alias tidak pernah marah.
Eyang Roekanti yang kini tinggal bersama putri ketujuhnya, Nastuti Herawati, di Jalan Rasamala, Patrang, Jember ini masih membaca Panyebar Semangat. Paling suka makan dengan lauk sayur. Sedangkan daging, jarang sekali dijamahnya. Barangkali itu yang membuat sang eyang tetap sehat, pikir saya.
Dikepang.
Roekanti dilahirkan di Ngawi, 26 Januari 1918. Putri tunggal pasangan Sarjono dan Masmunah. Karena tugasnya sebagai pegawai kehutanan, pada tahun 1932 pasangan ini dipindah ke Bangsalsari, Jember. Roekanti sendiri yang bersekolah di HIS kelas dua, meneruskan pendidikannya di HIS Jember. Saat itu dia bersama kawan-kawannya banyak yang bersekolah di Jember.
Untuk bersekolah, pemerintah kolonial Belanda menyediakan sepur (kereta api) khusus dari Tanggul ke Jember pulang pergi. Roekanti senang sekali bisa bersekolah dan banyak punya teman. Abonemen kereta api dari Bangsalsari ke Jember saat itu hanya 2 gulden per bulannya.
Ketika ditanya. dia sudah lupa dimana saja teman-teman sekolahnya yang abonemen sepur saat itu. Yang paling diingat adalah cara berpakaian anak sekolah saat itu. Seragam tidak ada, tetapi murid laki-lagi mengenakan sarung batik, jas tanpa dasi dan tanpa kopiah. Sedang anak perempuannya, pakai jarit dan berkebaya. Rambutnya di klabang, atau bahasa gaulnya dikepang.
Saat Roekanti mulai remaja, ibunya melarang dia melanjutkan sekolah HIS yang gedungnya kini ditempati SMP Negeri I Jember. Menurut ibunya, perempuan tidak perlu sekolah tinggi. “Kulo mrotol ngantos kelas gangsal”, katanya tertawa. Diapun menerima saja. Sama seperti ketika dia harus menikah dengan putra teman bapaknya. Nama laki-laki yang menikahinya pada April 1936 itu adalah Koesdi.
Koesdi adalah salah seorang dari 9 pegawai pamong praja pertama di Kabupaten Jember. Pendidikannya, HIS Kediri yang ditarik ke Jember untuk membantu pekerjaan di kantor kabupaten. Saat itu kantornya di sebuah ruang kecil di Jalan Trunojoyo. Tepatnya di sebelah barat kantor PDAM yang dulu merupakan jagal atau tempat pembantaian hewan.
Suami Roekanti ini adalah kemenakan Wiryodinoto, Wedono Ngadiluwih, Kediri, yang diangkat sebagai Bupati Jember pertama. Menurut Roekanti, nama Notohadinegoro lebih dikenal bila dibandingkan dengan namanya sendiri, Wiryodinoto. Notohadinegoro adalah gelar yang diberikan oleh Mangkunegaran (Solo), karena mempersunting putri Keraton Solo.
Banyak yang dia ceritakan mengenai pertumbuhan Jember sejak ditetapkan sebagai kabupaten. Roekanti bangga menjadi warga Jember sehingga maju seperti saat ini. Dia mengikuti perkembangannya dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, karena almarhum suaminya kebetulan menjadi Kepala Tata Usaha PUK (sekarang DPUD).
Suaminya pensiun tahun 1959 dan meninggal dunia pada tahun 1973. Roekanti sendiri aktif di Perwari dan PWRI Ranting Patrang. Namun karena harus tinggal di Baratan, aktivitasnya sebagai anggota PWRI mulai surut. “Menawi wonten pertemuan, mboten wonten ingkang ngeteraken”, tuturnya. Tetapi setiap bulannya dia harus ke kota untuk mengambil uang pensiun yang Rp. 692.000 di Bank Jatim.
Lawuh nyambik.
Lantaran falsafah hidupnya yang nrimo dan sabar itulah, Roekanti bersama suaminya tidak mengenal istilah kekurangan. Walaupun anaknya sebelas orang dan harus menyelesaikan sekolahnya. “Pas-pasan, kemawon”, katanya merendah. Dia ceritakan, suatu saat pengeluaran keluarganya mengalami defisit. Maka jalan yang ditempuh adalah menjual rokok yang mereka buat bersama. Rokoknya merk Nastiti, kata sang eyang tertawa. Pembelinya adalah kusir dokar atau cikar yang lewat Jalan Trunojoyo.
Menurut penuturan putra ketiga Roekanti, Koesnindar yang pensiunan perwira AURI, pas-pasan menurutnya mempunyai makna demikian. Untuk hidup kesehariannya, sang bapak yang mencari beras. Sedang anak-anaknya yang mencari lauk pauknya. Ada yang cari sayur, ada yang mencari ikan di sungai. Atau menjual jasa sebagai tukang cat, tukang nglabur atau apa saja yang menghasilkan uang.
Menurut Kusnindar, seringkali mereka sekeluarga makan dengan lauk sayur krokot. Karena krokot ada dimana-mana dan tidak usah beli. Bahkan melahap nyambik tidak jarang mereka lakukan. Menurut putera kelima Roekanti, Koeswanto, salah seorang adiknya sangat pinter berburu nyambik di sungai. Itulah lauk paling nikmat yang mereka rasakan pada saat masa-masa sulit.
Masa-masa kehidupan yang pas-pasan sudah berlalu. Eyang Roekanti kini tinggal menikmati hasil didikan keras almarhum suaminya. Dua putranya pensiunan pamen TNI, pejabat Bank Indonesia, Perwira AURI dan PNS. Satu diantara putranya, Nurul Kusman pernah menjadi Bupati Jombang. Soal karir, orang tua tidak pernah mengarahkannya. Namun dasar keilmuan, disiplin diri dan semangat tinggi selalu ditanamkan oleh pasangan Koesdi dan Roekanti kepada anak anak mereka. Termasuk untuk Koeswanto, purnawirawan Kolonel (TNI-AD) yang ki i menjadi Ketua Pepabri Cabang Jember.
Kunci keberhasilan semuanya adalah karena ketaqwaan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain menerima segala sesuatunya tanpa “muring”. Tulisan ini dimaksudkan juga untuk menyongsong Harijadi Kabupaten Jember, 1 Januari 2011, dimana masih ada seorang Ibu, istri seorang staf pamong praja pertama kabupaten ini didirikan.
Keterangan gambar. Kiri : Eyang Roekanti bersama putra dan putrinya yang sudah pensiun. Kanan : Eyang Roekanti yang tetap sehat sampai 93 tahun usianya kini.
WISATA MENEROBOS DUA TEROWONGAN


Oleh : Pakde Bagio
Menelusuri rel dengan kereta api alias sepur dari Jember menuju Banyuwangi benar-benar mengasyikkan. Disepanjang perjalanan yang tampak adalah hamparan sawah menghijau, kebun kopi dan pinus membuat mata betah memandanginya. Belum lagi pemandangan lembah dan gunung yang terlalu sayang tidak diabadikan dalam foto. Pemandangan ini belum termasuk keindahan panorama saat kereta api menyusuri beberapa jembatan panjang dan dua terowongan yang membelah Gunung Gumitir.
Agar dapat merasakan indahnya alam pegunungan dan perkebunan antara Jember – Banyuwangi, disarankan naik kereta api Tawang Alun atau Probowangi. Harga tiketnya terbilang murah. Kereta Tawang Alun hanya Rp. 4.500 sedang Probowangi Rp. 10.500. Untuk sampai stasiun Banyuwangi Baru, tepatnya diseberang jalan Pelabuhan Ketapang, kereta berhenti setidaknya di 16 stasiun kecil untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Maklum kereta api ini memang kereta rakyat.
Di stasiun Garahan hampir semua penumpang membeli makan pagi atau makan siang berupa nasi pecel. Nasi pecel disini memang khas, karena dipincuk daung pisang. Makanya nasi pecel Garahan ini dikenal dengan sebutan pecel pincuk atau atau pecel Garahan. Harganya sangat terjangkau, hanya Rp. 2.500 (dua ribu lima ratus rupiah). Antara penumpang dan penjual terasa cukup interaktif sepertinya sudah ada saling pengertian, sehingga kereta yang berhenti hanya lima menit dapat melayani ratusan penumpang untuk menikmati nasi pecel. Jual beli disini tanpa basa-basi, tidak ada tawar menawar, dan dilayani kaum ibu setempat.
Dari stasiun Garahan, sensasi menembus Gunung Gumitir dimulai. Ada dua terowongan yang harus dilewati kereta api untuk sampai ke Banyuwangi. Pertama terowongan Garahan dengan panjang 90 m yang selesai dibangun pada tahun 1902. Yang kedua adalah terowongan Mrawan dengan panjang 980 m diselesaikan pembangunnya pada tahun 1910. Yang terakhir adalah terowongan kereta api terpanjang di Indonesia. Kedua terowongan ini merupakan peninggalan Kolonial Belanda.
Sensasi berkereta api antara Jember – Banyuwangi, khususnya mulai dari stasiun Garahan yang masuk wilayah Kabupaten Jember dengan stasiun Kalibaru yang masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi ternyata tidak cukup dengan kedua terowongan itu. Masih ada sensasi lain yakni tikungan dan jembatan yang curam.
Dari Stasiun Garahan sampai dengan Stasiun Kalibaru terdapat 11 jembatan dengan kedalaman yang curam. Salah satu jembatan terpanjang, memiliki panjang kurang lebih 178 m dengan kedalaman 63 m. Jembatan-jembatan tersebut merupakan hasil rancang bangun arsitek Belanda.
Kalau mau lebih spesial lagi, masih ada wisata lain. Selain menikmati keunikan terowongan Garahan dan Mrawan saja dapat pula dinikmati keindahan dengan kereta khusus, yakni lori. Wisatawan dapat menikmati agrowisata Gunung Gumitir yang merupakan perkebunan kopi dan coklat, serta agrowisata hutan pinus yang getah pinusnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan cat.
Naik kereta api murah Tawang Alun atau Probowangi, penulis terkesan dengan 17 stasiun kecil yang bersih serta kereta yang bersih pula. Bahkan tidak seperti kereta lain, di kedua rangkaian kereta ini tidak ditemukan pengamen, peminta-minta atau tukang copet. Makanan kecil yang dijajakan relatif murah, karena kereta ini memang kereta rakyat.
Penulis hari Minggu (19/12) bersama warga se RT mencoba naik KA Probowangi dari Jember – Banyuwangi pulang pergi. Kesempatan satu jam untuk balik ke Jember di stasiun Banyuwangi Baru dimanfaatkan melihat Pelabuhan Ketapang yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali (Gilimanuk). Barangkali wisata murah meriah ini dapat dimanfaatkan pada liburan Natal dan tahun baru 2011.
TKI (Antara remitansi, skill dan aniaya)

Oleh : Pakde Bagio
Salah seorang dari sekitar 1.400 ABK kapal pesiar Amerika bernama ”Liberty of The Seas” berasal dari Jember. Namanya Andi bertugas sebagai Chef yang cukup diperhitungkan karena memilik skill yang sepadan. Menurutnya, selain memiliki skill seperti yang dituntut sesuai bidang tugasnya, seorang TKI harus memahami budaya dan bahasa yang digunakan sehari-hari di tempat kerja luar negeri.
Persis seperti yang ditemukan Komisi D DPRD Jember yang mengadakan sidak di Kantor Imigrasi Jember (17/12). Menurut Sahroni, anggota Komisi D disebutkan setelah diadakan sidak, ternyata banyak TKI unskill yang dengan mudahnya memperoleh paspor. ”Akibatnya, ketika di luar negeri mereka banyak mengalami masalah”, tutur Sahroni. Seharusnya pengiriman tenaga kerja ke luar negeri hendaklah yang berketrampilan, katanya lagi.
Adalah Sumiati (23 tahun) asal Dompu, NTB menjadi korban kekejian di rumah majikannya di Medinah. Selain dianiaya sekujur tubuhnya, bibir dan mulutnya digunting. Belum reda cerita sedih tentang Sumiati, Kikim Komalasari (36 tahun) asal Cianjur, Jawa Barat, tewas digorok majikannya. Kemudian jenasahnya dibuang di tempat sampah di Abha, sebuah kota di Arab Saudi.
Kisah Sumiati dan Kikim pada bulan Nopember 2010 ini melengkapi kisah sedih para TKI kita di luar negeri. Diantaranya seperti Nirmala Bonat (asal NTT) yang dianiaya dengan cara dipukuli, diseterika dan disiram air panas oleh majikannya. Yim Pek Hay, sang majikan dipenjara di Kuala Lumpur 18 tahun.
Siti Hajar (asal Garut) juga di Kuala Lumpur tidak pernah menerima gaji selama 3 tahun juga dianiaya dengan gunting, dipukuli dan disiram air panas. Majikannya Hiau Yuang dipenjara 3 tahun dan denda Rp. 13,25 juta. Begitu pula Winfaidah (asal Lampung) mendapat siksaan dan dijadikan budak seks di Kuala Lumpur. Majikannya bernama Wilu dan Bunguwalu kini tengah diadili dan mendapat ancaman hukuman 20 tahun penjara.
Bukan cuma itu. Laporan Direktur Executif Migrant Carw Anis Hidayah, selama sebelas bulan pada tahun 2010 tercatat 5,636 orang TKI di Arab Saudi mengalami kasus serius. Selain tindak kekerasan, mereka mayoritas menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Jumlah ini merupakan bagian dari 22.035 kasus yang terjadi di Arab Saudi.
Banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah kekerasan dan pelecehan terhadap TKI. Namun karena banyaknya kasus, seiring dengan semakin banyaknya TKI ke luar negeri, rasanya tidak mudah menyelesaikannya. Gemerincing dolar terdengar keras sekali mulai dari Jakarta sampai ke pelosok desa. Bayangkan, remitansi (kiriman uang) dari para buruh migran di luar negeri dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Tahun ini saja tercatat 7,139 miliar dolar AS yang masuk. Kalau kurs dolar AS Rp. 10 ribu per dolar maka remitansi itu berjumlah Rp. 71.390.000.000 (baca : tujuh puluh satu triliun rupiah lebih). Jumlah uang yang banyak yang berasal dari 4,3 juta TKI. Angka menggiurkan yang menjadi maknit setiap warga bangsa. Magnit yang mampu menyedot setiap orang untuk berburu dolar.
Mengingat semakin banyaknya buruh migran kita yang jadi korban penganiayaan, Presiden SBY berencana akan memberikan ponsel buat para TKI yang bekerja di luar negeri. Agar kelak kalau ada masalah dengan mereka, maka kedutaan besar di masing-masing negara dan Jakarta dapat segera mengetahuinya. Untuk segera diatasi.
”Pemerintah Indonesia menginginkan adanya kerja sama, sikap kooperatif, karena sebenarnya tenaga kerja itu ya bekerja untuk ekonomi mereka. Jadi, harus ada take and give-nya”, kata Presiden.
Menurut Anis, pemerintah lalai mengawasi proses perekrutan, pelatihan, dan penempatan mereka. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya TKI yang berusia dibawah umur, tidak memahami bahasa tempat kerja mereka bahkan tidak memiliki ketrampilan apa-apa. ”Kalau pengawasan benar, setiap TKI yang berangkat sudah menguasai bahasa negara tujuan, konsisi sosial, dan pemahaman hukum setempat”, kata Anis lagi.
Hal itu dibenarkan Andi (24 tahun), Chef kapal pesiar ”Liberty of The Seas”. Kapal terbesar berpenumpang 4.300 orang wisatawan berlantai 17 ini dengan rute Amerika Eropa. Menurutnya, selain harus memahamai budaya tempat TKI itu bekerja, penguasaan bahasa yang banyak digunakan di dunia, ketrampilan kerja dan pengetahuan yang luas menjadi syarat mutlak.
”Mereka sangat menghargai dan menghormati para pekerja asing yang berkemampuan tinggi dan pandai berkomunikasi”, katanya lagi. Kalau toh disana-sini terdengar adanya penganiayaan terhadap TKI kita, kemungkinan disebabkan oleh ketidak-mampuan berkomunikasi serta skill yang dibutuhkan.
Sebaran TKI dan Kasusnya
| Negara | Jumlah TKI | Jumlah kasus |
| Arab Saudi | 960.000 | 22.035 |
| Taiwan | 130.000 | 4.497 |
| Uni Emirat Arab | 75.000 | 3.866 |
| Singapura | 110.000 | 2.937 |
| Malaysia | 2.000.000 | 2.476 |
| Hongkong | 120.000 | 2.245 |
| Qatar | 25.000 | 1.146 |
| Oman | 12.000 | 1.146 |
| Bahrain | 16.000 | 373 |
| Suriah | 80.000 | 161 |
| Brunei | 33.000 | 84 |
| Korea Selatan | 33.000 | 10 |
Total TKI : 4,3 juta orang
Total kasus : 45.626
Catatan : belum termasuk TKI tidak berdokumen
