SUSAH TERUS


Oleh : pakde bagio

Hidup itu memang keras, tapi tawa Miskan (66 tahun) masih selalu menghiasi wajahnya yang renta. Setiap hari, walau hujan membasahi tubuhnya atau saat panas terik menyinari sekujur badannya, dia tetap saja berjalan. Menyusuri jalanan di Perumahan Jember Permai, Kelurahan Sumbersari, Jember. Berjalan tertatih-tatih. Sambil memikul keranjang kosong, menjual jasa membersihkan selokan, atau halaman, atau taman di perumahan itu.

Lelaki tua itu namanya Miskan, tetapi lansia yang satu ini lebih dikenal dengan panggilan Pak Ri. Julukan khas warga Madura karena anak sulungnya bernama Suari. Miskan memang akrab dengan warga perumahan itu karena sejak lebih 20 tahun dia menjual jasa disana. Tubuhnya kurus kering, dibalut kulit keriput kehitaman sedang jalannya terseok-seok. Lansia ini tak pernah menolak kalau diberi makan, atau kopi panas karena memang sejak berangkat sesudah subuh dari rumahnya di Pelindu, tak pernah ngopi. Apalagi makan pagi.

“Apa yang dibuat makan”, kata Pak Ri kepada Gema Lansia saat berteduh dibawah pohon menunggu job. Dari menjual jasa dengan modal tubuhnya yang kurus itu dia membawa uang untuk makan bersama isterinya. Terkadang seharian tidak dapat uang, maka sebelum waktu sholat dhuhur dia pulang dengan gontai.

Sesekali kalau rejeki memihaknya, ada juga yang pesen “rabug”. Rabug adalah kotoran sapi untuk pupuk tanaman bunga. Harga sepikul rabug Rp. 5.000 (lima ribu rupiah). Untuk memenuhi order pupuk kandang, dia harus berjalan sekitar dua kilometer. Ada order dua pikul rabug saja Miskan sudah bahagia sekali. Bisa untuk makan bersama isterinya yang juga sudah renta.

Gladag kembar.
Miskan tinggal di Pelindu, Desa Sumber Beringin Wirolegi ini tidak pernah menerima BLT. Menurut Pak Kampung, karena ketiga anaknya sudah menerima BLT. Miskan sendiri numpang di rumah anak sulungnya yang tukang becak. Dia memang tidak pernah mengharap dapat bantuan, mungkin karena nasibnya, katanya kepada Gema Lansia. Dia cukup bahagia kalau bias makan nasi walaupun sehari cuma sekali, katanya lagi.

Hidup ini keras, kata Miskan. Sejak akil baliq, Miskan sudah bekerja di kota (Jember). Yang paling berkesan adalah ketika beberapa tahun dia ikut bekerja membangun “gladag kembar”, sebuah jembatan di kota Jember yang melintasi Sungai Bedadung. Tugasnya adalah mengangkuti batu dengan upah 7 sen sehari. Lantaran itulah Miskan mengenal kota Jember. Namun, ketika tubuhnya mulai renta, sudah sekitar 20 tahun dia tidak lagi bisa melihat kota Jember. Padahal jaraknya cuma sekitar 5 kilometer dari rumahnya.

Dia juga tidak pernah menyesal tidak bisa melihat kota Jember yang semakin maju. Terkadang dia bisa membayangkan hiruk-pikuknya kota Jember dari gemerlapnya lampu di malam hari dari rumahnya. Tetapi dia bahagia melihat kesebelas cucu dan seorang cicitnya bisa menikmati alam merdeka.

“Mudah-mudahan mereka tidak seperti saya”, kata Miskan memelas. Lansia yang terpinggirkan, masih harus mencari sesuap nasi dengan menunggu balas kasihan orang.

0 komentar:

Posting Komentar