MASALAH LANSIA


Oleh : Pakde Bagio

Pada tahun 1980, angka pertumbuhan balita tercatat 14,4 % setara dengan 21 juta jiwa di Indonesia. Sementara itu, angka pertumbuhan lansia tercatat 7,9 juta atau 5,5 % penduduk. Sebagai akibat pembangunan dan kemajuan Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), pada tahun 2010 pertumbuhan balita nyaris disusul oleh lansia. Jumlah balita tercatat 19,7 jiwa, sedangkan jumlah lansia mencapai 17,3 juta jiwa. Di prediksi tahun 2010, jumlah balita akan menurun menjadi 17,6 juta jiwa sedangkan lansia akan mencapai 29 juta jiwa.

Hal ini adalah akibat dari menurunnya tingkat kelahiran (fertilitas) dan menurunnya angka kematian bayi (mortalitas). Sementara itu sebagai dampak pelayanan kesehatan yang semakin membaik, jumlah usia harapan hidup menjadi (UHH) bertambah. Melihat angka-angka tersebut, bagi kita para lansia merupakan hal yang menggembirakan. Namun demikian timbul pertanyaan, semakin meningkatnya UHH, apakah tidak menimbulkan masalah baru ?

Dari berbagai rapat kerja dan seminar yang diikuti penulis, ternyata kekhawatiran itu muncul ke permukaan. Ada tiga masalah yang dihadapi lansia. Pertama, pengaruh individualistik dan materialistik yang dapat merugikan lansia adalah lemahnya nilai kekerabatan, menurunnya penghargaan dan memudarnya rasa gotong royong. Kedua, proses penuaan yang bersifat alami dan manusiawi tidak bisa dihindari secara biologis sehingga sangat mengganggu kemampuan lansia yang mengakibatkan turunnya daya tahan tubuh, kecacatan, kemiskinan dan keterlantaran. Ketiga, semakin tua usia maka semakin turun daya tahan fisiknya sehingga sulit mmenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Antara lain : pembiayaan pengobatan, transportasi, komunikasi, pelayanan, penyaluran tenaga dan rekreasi.

Berbagai masalah lansia timbul akibat proses penuaan yang menyebabkan kondisi fisik dan psikis menurun dan dapat berpengarauh terhadap beberapa hal. Seperti produktifitas kerja yang menurun. Lebih suka hidup menyendiri, merasa tidak diorangkan, merasa tidak berguna, merasa tersisih dan terpisahkan. Sementara itu beberapa penyakit yang akrab dengan lansia seperti jantung koroner (penyakit degeneratif), rematik, arthritis, osteoporosis, penyakit pernafasan seperti asma dan brokhitis. Begitu juga diabetes dan gangguan pernafasan (penyakit metabokte), sampai pada katarak (sakit mata), serta penyakit gigi dan telinga.

Maka, agar para lansia awet urip, dianjurkan mereka tidak menyendiri, tidak merasa tersisih, tidak merasa tidak berguna atau tidak merasa diorangkan. Carilah kelompok-kelompok lansia yang sesuai dengan kesenangan masing-masing. Seperti berkelompok dalam Posyandu lansia, kelompok kesenian (musik keroncong, campur sari) , kelompok olah raga (jalan sehat, senam), kelompok sosial (PWRI, Karang Werda, Pepabri), kelompok pengajian atau kelompok-kelompok lain dalam masyarakat.

Penulis pikir, para lansia tidak akan menemui kesulitas untuk bergabung dalam kelompok-kelompok. Bukankah lansia yang menurut Literatur Serat Werdatamma Ki Mangkunegoro IV disebut Wong Sepuh. Wong sepuh adalah orang tua yang sepi hawa nafsu, bijaksana, religius dan mampu membedakan Gusti dan Kawula-nya.

Disisi lain, perlunya ditumbuh-kembangkan kepedulian dan pengelolaan bagi lansia. Baik oleh pemerintah, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kewenangan dan kapasitas masing-masing. Sementara itu Pemerintah Kabupaten Jember segera menetapkan Peraturan Daerah (Perda) Kesejahteraan Lansia. Sebagai follow up ditetapkannya Perda Provinsi Jawa Timur nomor : 5/ 2007 tentang Kesejahteraan Lansia. Dengan demikian maka aka nada alokasi anggaran APBD untuk mendukung kesejahteraan lansia di Jember.

Di Jember sudah banyak organisasi wadah para lansia. Seperti PWRI, Pepabri, Intan Sejati atau Karang Werda. Bahkan Bupati Jember sudah menetapkan Perbup : nomor 47/2006 yang menetapkan tentang pembentukan dan pemberdayaan Karang Werda sebagai tempat berkumpulnya para lansia. Dalam Perbup tersebut, setiap desa/kelurahan terdapat satu Karang Werda. Alhamdulilah, di Jember kini sudah terbentuk 70 Karang Werda di 16 kecamatan. Tetapi 15 kecamatan lainnya masih belum ada.

Kiranya Perwakilan Yayasan Gerontologi Abiyoso dan Forum Kerjasama Karang Werda yang sudah ada di Jember dapat ditingkatkan perannya untuk melahirkan Perda Kesejahteraan Lansia di Jember. Semoga.


Gambar : Lansia Ony yang sempat dapat kucuran UEP saat ditinjau petugas Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.


0 komentar:

Poskan Komentar