SEMUANYA KARENA BIPANG


Oleh : Imam Soebagio

Rutinitas kehidupan sehari-harinya dia mulai sesudah subuh. Usai menjalankan sholat Subuh, dia memulai roda kehidupannya diatas roda sepeda bututnya. Keliling kota Jember sampai menjelang sholat Dhuhur, menjual bipang dan krupuk rambak. Pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak puluhan tahun lalu. Lansia kelahiran 1945 ini tidak merasa bosan dengan pekerjaannya, dengan barang dagangannya, dengan penghasilannya berjualan makanan ringan ini.

Itulah sosok Slamet yang banyak dikenal para ibu di dalam kota Jember sampai pinggiran kota. Para ibu rumah tangga sangat faham kalau Slamet selalu mendatangi kampungnya seminggu sekali. Slamet sendiri sudah membuat jadwal, hari ini ke wilayah ini dan berikutnya ke wilayah satunya, dan seterusnya. Seminggu kemudian, Slamet kembali ke rute tetapnya.
Barang dagangannya cuma bipang. Sebagai pelengkap, dia juga menjual krupuk rambak. Bipang yang dia jual di-drop dari Pasuruan. Sedang krupuk rambak, dia kulakan dari Mangli, masih wilayah Jember.

Slamet dikenal sebagai orang tua sabar dan selalu santun kepada pelanggannya. Satu pak bipang dia jual dengan harga Rp. 1.250. Tidak lebih dari harga itu, karena sudah ada untungnya. Padahal dulu harganya cuma seringgit alias dua setengah rupiah. Saat itu kulakannya hanya satu setengah rupiah. Keuntungan satu rupiah saat itu bisa buat belanja macam-macam, tetapi sekarang untung seribu rupiah cuma bisa untuk beli empat buah kerupuk.

Selama sekitar enam jam keliling kota kalau ada rejeki Slamet mampu menjual tiga bal bipang. Tetapi kalau hari mulai panas dan dagangannya hanya laku dua bal, dia pulang ke rumahnya Gebang Tenggil, Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Kaliwates.

Satu bal bipang berisi 35 pak yang harga kulakannya Rp. 30 ribu. Kemudian dia jual Rp. 1.250 per pak. Jadi keuntungan menjual tiap bal bipang Rp. 13.750. “Kalau ada rejeki, sekali keliling kota bisa laku 3 bal”, jelas Slamet. Artinya dia akan mengantongi untung Rp. 41.250. Tetapi rata-rata sehari paling banyak dua bal. Itu sangat dia sukuri, apalagi jaman sekarang diakui Slamet cari uang sangat susah.

Gembala kambing.
Menjelang sholat Dhuhur, Slamet sudah tiba kembali dirumahnya. Setelah sholat, dan makan, Slamet mulai menggembalakan kambing. Beberapa ekor kambing milik menantunya dia gembalakan tak jauh dari rumahnya sambil merumput. Pekerjaan itu ditunaikannya sampai waktu sholat Ashar. Bersama kambingnya Slamet pulang.

Slamet yang tinggal bersama isteri, seorang anak dan menantunya ini tidak punya keinginan apa-apa menghadapi masa tua. Dia tidak dapat BLT walaupun tergolong miskin. Keluarganya juga tidak dapat kompor gas dan tabung walaupun dia membutuhkannya. Dia cuma bersukur karena diberi usia yang cukup. Namun alangkah bahagianya kalau dia punya kambing sendiri. Untuk persiapan mantu, apabila anak bungsunya minta kawin.


0 komentar:

Posting Komentar