ANTARA UNJUNG-UNJUNG DAN UANG KARTAL


Oleh : Imam Soebagio

Ada tradisi yang tak akan dilewatkan oleh anak-anak pada setiap lebaran. Setelah sebulan berpuasa ramadhan, datanglah 1 Syawal 1430 Hijriah. Beramai-ramai menjalankan ibadah sholat Ied, kemudian langsung pulang.. Di rumah sudah menanti eyang, bapak dan ibu. Masing-masing kemudian menghaturkan sembag sungkem untuk memohon maaf dan memohon doa agar diberikan panjang umur dan kelancaran bersekolah. Kemudian menyantap makan pagi.
Acara yang diimpi-impikan sejak memasuki bulan suci ramadhan tiba. Tanpa dikomando, anak-anak saling menghampiri para kroni mereka. Setelah berkumpul sekitar lima , tujuh atau sepuluh anak, merekapun berangkat. Mengunjungi orang-orang tua di kampung. Namanya unjung-unjung.

Mungkin istilah ini berasal dari kata kunjung atau mengunjungi. Sehingga timbul istilah unjung-unjung. Di rumah-rumah yang mereka kunjungi, mereka biasanya disuguhi kue yang enak-enak dan minuman yang segar-segar. Pulangnya, mereka masing-masing diberi sangu. Biasanya sangu uang baru. Trend-nya tahun ini adalah lembaran seribua, dua ribuan uang baru, lima ribuan sampai sepuluh ribuan.

Para orang tua di kampung-kampung di Jember senang didatangi anak-anak pada saat begini. Ada yang mengatakan pemberian saat unjung-unjung merupakan sodaqoh yang wajib saat lebaran. Untuk menyenangkan anak-anak. Mereka seolah berlomba membagikan uang baru. Anak-anakpun senang. Sesuai kemajuan jaman, hasil unjung-unjung mereka gunakan untuk membeli baju baru, buku atau sepatu baru.

Percaya atau tidak, menjelang lebaran 2009, selama sebulan masyarakat telah melakukan penukaran uang kartal bernilai Rp. 1,78 milyar. Penukaran yang dilakukan di Bank Indonesia Surabaya. Uang kartal adalah istilah dari pecahan uang kertas dan uang logam. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penukaran uang kartal tahun ini mengalamikenaikan 72 persen.

Menurut Kabid Sistem Pembayaran Bank Indonesia Surabaya Johanes Wiwoho, untuk penukaran pecahan Rp. 2 ribuan mencapai Rp. 44,8 milyar. Hal ini disebabkan terbitnya pecahan Rp. 2 ribuan baru. Kemudian menyusul pecahan Rp. 1.000 yang mencapai Rp. 7,5 milyar. Penukaran uang seribuan ini mengalami penurunan Rp. 2,3 milyar bila dibandingkan pada tahun 2008 sebesar Rp. 10,8 milyar.

Pecahan
Rp. 1.000 2008 :Rp. 10,8 milyar, 2009 : Rp. 7,5 milyar
Rp. 2.000 2009 : Rp. 44,8 milyar
Rp. 5.000 2008 : Rp. 41,1 milyar, 2009 : Rp. 57 milyar
Rp. 10.000 2008 : Rp. 1,3 milyar, 2009 : Rp. 48,3 milyar
Rp. 20.000 2008 : Rp. 10,4 milyar, 2009 : Rp. 32,5 milyar
Rp. 50.000 2008 : Rp. 2,8 milyar, 2009 : Rp. 2,9 milyar
Rp. 100.000 2008 : Rp. 2,2 milyar, 2009 : Rp. 2,8 milyar


1 komentar:

pakdebagio mengatakan...

adi bersama eyang buyut Soemiati yang didampingi uti sri pada lemabaran kemarin. adi baru terima angpao.

Posting Komentar